Minggu, 22 Agustus 2010

Bantuan Pendidikan - Wakaf Tunai / Donasi


Wakaf Tunai saat ini sangat di minati olah masyarakat, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. ( QS : Al Baqoroh : 261 )

[166] Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Yayasan Insan Taqii Al Faqih ( YITA ), adalah yayasan yang dibangun dalam rangka mewujudkan generasi unggul dari sisi perpaduan keulamaan yang mampu dibidang keagamaan dan tehnologi. Artinya Yayasan bercita-cita melahirkan bibit-bibit ulama seperti para sahabat, tabiin, para imam sampai abad hidup  Ibnu Sina, al Birruni, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah dan ulama lain yang telah melahirkan banyak ilmu-ilmu sains.
                Cita-cita di atas akan diwujudkan melalui pendidikan  dari tinggkat SLTA dan Perguruan  dengan dimulai membuka SMK Islam diberbagai keahlian dengan memadukan keilmuan Islam yang telah ada dengan perkembangan tehnologi modern. dengan sistem semi boarding school untuk menampung peserta didik yang jauh (semi pesantren ).

                 Untuk mewujudkan cita-cita ini, yayasan ingin berbagi Wakaf  Tunai/ Donasi  dengan bapak/ibu/ saudara muslim dimanapun berada dalam pengadaan fasilitas gedung untuk menunjang  optimalnya pendidikan dengan nominal @ Rp. 3.000.000,- / permeter persegi.
Adapun pemberian sumbangan  bisa langsung / transfer / diambil petugas yayasan, atau transfer langsung melalui  Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih.

    Atas segala perhatian bapak/ibu/ saudara sekalian kami ucapkan jazakumullah khoeron katsira.



                                                                                                  Ttd



                                                                               Yayasan Insan Taqii Al Faqih

Kamis, 19 Agustus 2010

Bantuan pendidikan_Investasi Di Bulan Ramadhan

Tawaran Donasi/kerjasama

Assalamu'alaikum wr.wb


  Saudara-saudaraku dimanapun berada, semoga Ramadhan membawa kita pada keberkahan dan kebahagiaan, amiin.
    Yayasan Insan Taqii Al Faqih ( YITA ), adalah yayasan yang dibangun dalam rangka mewujudkan generasi unggul dari sisi perpaduan keulamaan yang mampu dibidang keagamaan dan tehnologi. Artinya Yayasan bercita-cita melahirkan bibit-bibit ulama seperti para sahabat, tabiin, para imam sampai abad hidup  Ibnu Sina, al Birruni, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah dan ulama lain yang telah melahirkan banyak ilmu-ilmu sains.
     Cita-cita di atas akan diwuudkan melalui pendidikan mulai dari tinggkat SLTA dengan membuka SMK Islam diberbagai keahlian dengan memadukan keilmuan Islam yang telah ada dengan perkembangan tehnologi modern. dengan sistem semi boarding school untuk menampung peserta didik yang jauh (semi pesantren ).

     Untuk mewujudkan cita-cita ini, yayasan ingin berbagi donasi atau kerjasama dengan bapak/ibu/ saudara muslim dimanapun berada dalam pengadaan fasilitas belajar yang menunjang.
Adapun pemberian donasi bisa langsung / transfer / diambil petugas yayasan, atau transfer langsung melalui  Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih.

    Atas segala perhatian bapak/ibu/ saudara sekalian kami ucapkan jazakumullah khoeron katsira.



                                                                              Ttd




                                                                               Yayasan Insan Taqii Al Faqih



    

  

Rabu, 18 Agustus 2010

Investasi Di Bulan Ramadhan


Bapak/ibu Dermawan yang dimulyakan Allah. Alhamdulillah, bulan yang kita nanti-nanti  telah  datang yaitu bulan yang penuh rahmat dan ampunan serta  bulan jaminan Surga  bagi hambanya yang bertaqwa. Semoga di Bulan Ramadhan ini kita mendapatkan gelar oleh Allah yaitu Taqwa, Amin.
Bapak ibu yang di mulyakan Allah Mari kita mengingat kembali wasiat Rosulullah dalam menyambut bulan Ramadhan , sungguh telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh Rahmat, Berkah dan Ampunan, bulan paling utama di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam yang paling utama, bulan ketika engkau diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dimuliakanNya.
Di bulan ini nafasmu adalah tasbih, tidurmu adalah ibadah, Amalmu diterima dan do’a-do’amu diijabah, karenanya mohonlah kepada Allah Tuhanmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci, agar ia membimbingmu untuk berpuasa dan membaca kitabNya, celakalah orang-orang yang tidak mendapat ampunan Allah dibulan yang Agung ini. Kenanglah dalam lapar dan hausmu ketika berpuasa kelaparan dan kehausan di hari Kiamat kelak. Bersedekahlah kepada para Fuqara dan Masakin. Muliakanlah orang-orang yang lebih tua, sayangilah yang lebih muda, sambungkan tali persaudaraan, pelihara lidahmu, tahan pandangan dan pendengaranmu dari hal-hal yang tidak halal kau pandang dan kau dengar. Kasihanilah anak-anak Yatim niscaya anak-anak yatimmu akan dikasihi orang.
Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosamu, angkatlah tanganmu, munajatkan do’a saat Sholat-sholatmu karena itulah saat-saat yang paling utama, ketika Allah memandang hamba-hambanya penuh kasih sayang. Ia menjawab mereka ketika mereka bermunajat kepadanya, menyambut mereka ketika mereka menyeruNya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdo’a kepadaNya.
Wahai manusia, sesungguhnya dirimu tergadai dengan amal-amalmu, sebab itu bebaskanlah dirimu dengan istighfar, punggungmu berat karena dosamu maka ringankanlah ia dengan memperpanjang sujudmu, ketahuilah Allah bersumpah dengan keperkasaanNya untuk tidak menyiksa orang-orang yang sholat dan sujud dan tidak mengancam mereka dengan api neraka ketika manusia berdiri di hadapan Robb al ‘Alamin.
Wahai manusia, barangsiapa diantara kamu yang memberi makan berbuka untuk seorang mukmin yang berpuasa di bulan ini niscaya baginya pahala memerdekakan hamba sahaya dan ampunan atas dosa-dosa yang telah silam. Peliharalah dirimu dari api neraka meski hanya dengan sebutir korma dan seteguk air karena Allah SWT akan menganugerahkan pahala sebesar itu dengan amalan seringan itu jika memang seseorang tidak mampu berbuat yang lebih banyak dari dari itu.
Maka bersama ini Rumah Dhuafa mengajak Bapak/ibu/Saudara untuk mensukseskan program Ramadhan sekaligus menyempurnakan Ramadhan ini dengan:
  1. MELAKSANAKAN SHOLAT TARAWIH
  2. BERINFAK DAN SHADAQAH
  3. MEMBAYAR ZAKAT
  4. MEMBAYAR FIDYAH
  5. I’TIKAF 10 MALAM  TERAHIR
  6. MEMBERI TA’JIL/BERBUKA PUASA 45 ORANG(Anak yatim&shoimin)
  7. IKUT PROGRAM WAKAF 100 ALQURAN  TERJAMAH
  8. MEMBERI PAKET LEBARAN UNTUK ANAK YATIM ( NO 2,3,4,6,7, 8 disalurkan lewat Rumah Du'afa Indonesia )
  9. WAKAF TUNAI TANAH DAN BANGUNAN @ Rp. 2.500.000,- ( disalurkan ke YITA )

Semoga Amal sholih ini dapat membawa keberkahan kepada Bapak/Ibu/Saudara,  serta kita dapat di pertemukan di bulan ramadhan yang akan datang  selanjutnya kami mengucapkan Jazakallahu khoiron katsiron.



Jakarta, 11 Agustus 2010
* Bank Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih,
* RUMAH DHUAFA INDONESIA
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Rumah Dhuafa : 021-8856530, 92122424 SMS  081383650665
Salurkan Zakat Infaq Sedekah anda ke:
Bank BCA : 5770524387 Cabang Galaxi
Bank BSM : 0697055615 Cabang Kalimalang




Bantuan Pendidikan_ Tawaran Donasi YITA

Pusat pendidikan_ SMK semi pesantren modern

SMK ISLAM

Dewasa kini banyak lembaga - lembaga pendidikan islam yang menawarkan berbagai macam pola pendidikan yang dikemas sedemikian rupa. dengan berbasis bahasa, teknologi dan juga manajemen kehidupan yang ulet dan siap bekerja keras terhadap semua peserta didiknya. semua itu memanglah sudah baik dengan banyak terjadinya perubahan - perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. peserta didik (santri) dituntut agar mampu menguasai 2 kajian keilmuan:
  1. Keilmuan Duniawi (Technoligi, Sains Dll.)
  2. Keilmuan Ukhrowi (Agama/Religis)
belakangan ini banyak lembaga - lembaga yang berupaya menciptakan suatu inovasi baru didunia pendidikan dengan menyetukan antara sekolah dan pesantren yang sering kita sebut "Boarding School". Boarding School inilah yang merupakan salah satu jalan terbaik untuk menciptakan generasi muda yang mempunyai kemampuan intelektual 2 kajian keilmuan (Duniawi dan Ukhrowi).
Selain mempunyai kajian keilmuan tersebut, semua itu harus disertai dan dibarengi dengan Moralitas, Mentalitas dan Akuntabilitas untuk menciptakan santri yang madani.
YAYASAN INSAN TAQII AL FAQIH ingin menyelenggarakan pendidikan yang membekali nilai-nilai Islam dan terwujud dalam aplikasi kehidupan, sehingga ia tampil menjadi manusia yang utuh. pada intinya bagaimana mengantarkan mereka sukses dunia dan akherat.

untuk merealisasikan ini yayasan minta doa' restu dan dukungan material demi terwujudnya cita-cita yang diharapkan. salurkan donasi anda untuk pengembangan pendidikan melalui rek Bank Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih, atas partisipasinya kami uacapkan jazakumullah khoeron katsira

Mp3 players_ Sebagai sarana pendidikan


mp3 Player. mp4 Player. RM Player. Flash Video. Recorder. Digital Album. USB. PDF Reader. e-Book. HTML Reader. Radio. telah banyak dijadikan sebagai bagian yang penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan.

Jumat, 06 Agustus 2010

Bantuan pendidikan_ gagasan pendidikan Islam

Oleh: Muhammad Fahri
"Madju atau mundurnja salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada peladjaran dan pendidikan jang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa jang terbelakang menjadi madju, melainkan sesudahnja mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka."
A. PENDAHULUAN
Indonesia memiliki khazanah tokoh pembaharu dunia pendidikan Islam yang begitu banyak, para tokoh tersebut sangat intens dan menaruh perhatian besar tehadap perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan Islam. Mereka banyak melahirkan gerakan-gerakan yang baru, pemikiran-pemikiran yang segar bahkan gagasan-gagasan yang cemerlang yang sesuai dengan tujuan dan arahan serta visi misi pendidikan Islam. Peran tokoh-tokoh tersebut banyak memberikan angin segar, pencerahan ide-ide yang banyak dikembangkan oleh para praktisi pendidikan pada masa kini.
Nama Mohammad Natsir begitu penting dalam wacana Pendidikan Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai pahlawan nasional yang kiprahnya dalam memajukan bangsa ini, khususnya umat Islam di waktu lampau telah diakui oleh berbagai kalangan. Bahkan, pengaruh dari usaha beliau masih dirasakan hingga sekarang. Pak Natsir (sapaan akrab beliau) tidak hanya dikenal sebagai sosok negarawan, pemikir modernis, mujahid dakwah. Tapi, beliau dikenal juga sebagai seorang aktivis pendidik bangsa yang telah menorehkan episode sejarahnya di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga masa orde baru. Pemikirannya banyak digali dan dijadikan sebagai titik tolak kebangkitan umat Islam dalam berbagai macam bidang.
Mohammad Natsir adalah tokoh yang menggagas pembaharuan pendidikan Islam yang berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah, maka pendidikan Islam harus bersifat integral, harmonis, dan universal, mengembangkan segenap potensi manusia (fitrah) agar menjadi manusia yang bebas, mandiri sehingga mampu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Selanjutnya, konsep pendidikan integral, harmonis dan universal tersebut oleh Natsir dihubungkan dengan misi ajaran Islam sebagai agama yang bersifat universal.
Menurut Natsir, bahwa Islam bukan sekedar agama dalam pengertian yang sempit yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan saja, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia. Dari pertimbangan yang telah diutarakan diatas, terlihat bahwa studi mengenai Mohammad Natsir dan pemikirannya tentang pendidikan Islam merupakan bidang yang amat menarik dan penting untuk diteliti serta cukup beralasan, maka penulis berusaha menganalisis pemikiran Mohammad Natsir, serta membuat format dari gagasan tersebut yang dikemas dalam suatu rumusan: Bagaimana konsep Pendidikan Islam menurut Muhammad Natsir. Untuk menjawab permasalahan ini maka akan dibahas pemikiran Muhammad Natsir mengenai: (a) tujuan pendidikan Islam, (b) kurikulum pendidikan Islam, (c) metode pendidikan Islam.
B. BIOGRAFI MUHAMMAD NATSIR
Muhammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada hari Jum’at 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah bertepatan dengan 17 Juli 1908 Masehi. Natsir adalah putra dari Khadijah dan Mohammad Idris Sutan Saripado. Ia memiliki 3 orang saudara kandung, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah, Yohanusun. Tanah kelahiran Natsir sangat terbuka dengan model pendidikan Belanda, sehingga kesempatan ini banyak dipergunakan oleh penduduk secara antusias, sehingga sekolah pada waktu itu tidak dapat menampung animo masyakat untuk mengenyam pendidikan.
Riwayat pendidikan Muhammad Natsir dimulai di sekolah Rakyat (SR) Maninjau Sumatra Barat hingga kelas dua. Ketika ayahnya dipindah-tugaskan ke Bakeru, Natsir mendapat tawaran dari mamaknya, Ibrahim untuk pindah ke Padang agar dapat menjadi siswa di Holland Inlandse School (HIS) Padang. Namun His Padang menolaknya dikarenakan latar belakang Muhammad Natsir yang berasal dari anak pegawai rendahan. Akan tetapi Natsir memasuki HIS Adabiyah (swasta) yang diperuntukkan untuk anak-anak negeri selama lima bulan.
Setelah ayahnya dipindah-tugaskan dari Bekeru ke Alahan Panjang, Natsir dijemput untuk sekolah di HIS Pemerintah yang berada di Solok. Namun karena Solok cukup jauh dari Alahan Panjang, maka Natsir terpaksa dititipkan di rumah saudagar yang bernama Haji Musa.
Setelah belajar di HIS pada pagi hari, Natsir juga belajar di Sekolah Diniyah pada waktu sore dan belajar mengaji pada malam hari. Pada waktu itulah Natsir mulai belajar bahasa Arab. Setelah ia duduk di kelas tiga sekolah diniyah, dia diminta untuk mengajar di kelas satu, mengingat pada saat itu masih kekurangan guru. Atas pelaksanaan tugasnya itu, Natsir memperoleh imbalan sebesar sepuluh ribu rupiah sebulan.
Namun saat itu datang pula kakaknya yang mengajak pindah ke Padang. Di HIS Padang itulah Natsir masuk kelas lima dan bersekolah di situ selama tiga tahun hingga selesai. Setelah lulus dari HIS, Natsir mengajukan permohonan untuk mendapat beasiswa dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs) dan ternyata lamarannjya itu diterima. Di MULO Padang inilah Natsir mulai aktif dalam organisasi. Mula-mula ia masuk dalam Jong Sumatranen Bond (Serikat Pemuda Sumatra) yang diketuai oleh Sanusi Pane. Kemudian ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam) dan disitupun Sanusi Pane aktif sebagi ketua dan menjadi anggota Pandu Nationale Islamietische Pavinderij (Natipij), sejenis Pramuka sekarang. Menurut Natsir organisasi merupakan pelengkap selain yang didapatkan di sekolah, dan memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan bangsa. Dari kegiatan berbagai organisasi inilah mulai tumbuh bibit sebagai pemimpin bangsa pada Muhammad Natsir.
Aktivitas Natsir semakin berkembang ketika ia menjadi siswa di Algememe Midelbare School (AMS) di Bandung. Di kota inilah ia mempelajari agama secara mendalam serta berkecimpung dalam bidang politik, dakwah, dan pendidikan. Di tempat inipula Natsir berjumpa dengan A. Hasan (1887-1958), seorang tokoh pemikir radikal dan pendiri Persatuan Islam (Persis). Natsir mengaku bahwa A. Hassan banyak mempengaruhi alam pikirannya. Hal ini karena Muhammad Natsir tertarik pada kesederhanaan A. Hassan, juga kerapihan kerja dan kealimannya.
Minat dan perhatian Natsir terhadap persoalan keIslaman dan Kemasyarakatan menyebabkan Natsir menolak tiga kesempatan yang ditawarkan kepadanya, yaitu melanjutkan ke fakultas ekonomi atau fakultas hukum di Rotterdam, menjadi pegawai negeri dengan gaji besar sebagai hadiah atas keberhasilannya menyelesaikan studi di AMS dengan nilai tinggi. Minat tersebut direalisasikannya dengan aktif dalam bidang pendidikan secara luas yang dirintisnya dengan melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan studi Islam yang dilaksanakan oleh Persatuan Islam (Persis) di Bandung yang dimulai sejak tahun 1927-1932 dibawah pimpinan A. Hassan.
Pada bulan Maret 1932 Persis menyelenggarakan pertemuan kaum muslimin di Bandung dengan mengangkat persoalan pendidikan bagi generasi muda Islam sebagai tema sentralnya. Pertemuan itu melahirkan suatu perkumpulan yang diberi nama Pendidikan Islam (Pendis) dengan program utamanya meningkatkan mutu pendidikan melalui pembaruan kurikulum, menanamkan ruh Islam pada setiap mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswa
Serta mengelola sistem pendidikan yang dapat melahirkan lulusan yang memiliki kepribadian yang mandiri dan terampil. Untuk mencapai tujuan tersebut diatas antara lain dilakukan melalui pendirian sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak, HIS, MULO, pertukangan, Perdagangan, Kursus-kursus, ceramah, dan lain sebagainya.
Jejak M. Natsir dalam bidang pendidikan sudah ada sebelum negeri ini merdeka. Ketika Indonesia berada di bawah jajahan Jepang (1942-1945) seluruh partai Islam dibubarkan kecuali empat organisasi islam yang tergabung dalam MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yaitu; NU, Muhammadiyah, PUI yang berpusat di Majalengka, dan PUII yang berpusat di Sukabumi. Empat generasi tersebut kemudian tergabung dalam satu wadah, yaitu MASJOEMI, penjelmaan baru MIAI. Pada 1945 Masjoemi mengadakan rapat yang menghasilkan dua putusan penting, pertama, membentuk barisan mujahidin dengan nama Hizbullah untuk berjuang melawan sekutu. Kedua, mendirikan perguruan tinggi Islam dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI), STI kemudian hari menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Maksud berdirinya STI adalah untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat di kemudian hari.
Dewan Ketua Kurator STI dijabat Mohammad Hatta dan Natsir sebagai sekretarisnya. Rektor Magnificus oleh KH. A. Kahar Muzakkir dan Natsir pula sebagai sekretarisnya, dan Prawoto Mangkusasmito sebagai wakil sekretaris. Di samping menjabat sebagai sebagai sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta, Pak Natsir, di kala itu, menjabat sebagai kepala biro pendidikan Kodya Bandung. Pada tahun 1932-1942, beliau memimpin Lembaga Pendidikan Islam (PENDIS) yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (UNISBA), yang saat menjadi universitas terpandang di kota Bandung.
Setelah matang membangun Pendis, Natsir mengarahkan andilnya untuk membangun perguruan Islam lainnya. Beliau melakukan adanya koordinasi dan penyelarasan program pendidikan perguruan Islam bakal melahirkan institusi pendidikan Islam yang memiliki keseragaman dasar dan cita-cita.
Guna merealisasikan tujuannya ini, beliau menyeru perguruan dan institusi pendidikan Islam di Indonesia untuk membentuk wadah bersama yang diberi nama Perikatan Perguruan-Perguruan Muslim (PERMUSI). Beliau juga tercatat sebagai penggagas di balik berdirinya Badan Kerja Sama Perguruan tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) yang kini memiliki anggota lebih dari 500 PTIS se Indonesia. Dari gagasan Muhammad Natsir lahirlah kampus-kampus Islam yang memiliki nama besar, seperti Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Universitas Islam Bandung (UNISBA) di Bandung, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makasar, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) di Semarang, Universitas Islam Riau (UIR) di Riau, Universitas Al-Azhar Indonesia, dan LPDI Jakarta yang kini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir.
Muhammad Natsir berpulang ke rahmatullah pad tanggal 6 Februari 1993 Masehi bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 Hijriah di rumah sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta dalam usia 85 tahun dengan meninggalkan enam orang anak dari pernikahannya dengan Nurhanar, yaitu; Siti Muchlisoh (20 Maret 1936), Abu Hanifah ( 29 April 1937), Asma Farida (17 Mei 1941). Hasnah Faizah (5 Mei 1941), Aisyatul Asrah (20 Mei 1942), dan Ahmad Fauzi (26 April 1944). Berbagai ungkapan belasungkawa muncul baik dari kawan seperjuangan maupn lawan politiknya.
C. GAGASAN DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN
Selain sejarah atau biografi Muhammad Natsir, berikut dengan riwayat pendidikan serta kariernya dalam bidang politik dan keorganisasian, penulis akan membahas gagasan dan pemikiran muhammad Natsir ditinjau dari tiga sisi, yaitu; Tujuan Pendidikan Islam, Kurikulum Pendidikan Islam serta Metode Pendidikan Islam.
I. TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai oleh Mohammad Natsir adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, maju dan mandiri sehingga memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Selain itu bahwa tujuan manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, tidak akan diperoleh dengan sempurna kecuali dengan keduanya. Pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan kehidupan manusia, tujuan ini tercermin dalam al Qur’an Surat Al-An’am: 162.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (QS. Al-An’am: 162)
Bagi Muhammad Natsir, fungsi tujuan pendidikan adalah memperhambakan diri kepada Allah SWT semata yang bisa mendatangkan kebahagiaan bagi penyembahnya. Hal ini juga yang disimpulkan oleh Prof. DR. H. Abuddin Nata, M.A, tentang tujuan pendidikan Islam menurut Muhammad Natsir, bahwa pendidikan Islam ingin menjadikan manusia yang memperhambakan segenap rohani dan jasmaninya kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan konsep Islam terhadap manusia itu sendiri. Bahwa mereka diciptakan oleh Allah untuk menghambakan diri hanya kepada Allah semata. Oleh karenanya segala usaha dan upaya manusia harus mengarah ke sana, di antaranya adalah pendidikan.
Firman Allah Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)
Selanjutnya Natsir mengatakan bahwa apabila manusia telah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, berarti is telah berada dalam dimensi kehidupan yang menyejahterakan di dunia dan membahagiakan diakhirat. Menurut Natsir dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam, hendaknya mempertimbangkan posisi manusia sebagai ciptaan Allah yang terbaik dan sebagai khalifah di muka bumi.Perkataan menyembah-Ku sebagaimana terdapat dalam potongan surat az Dzariyat tersebut diatas menurut Natsir memiliki arti yang sangat dalam dan luas lebih luas dan dalam dari perkataan-perkataan itu yang biasa kita dengar dan gunakan setiap hari. ”Menyembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah ilahi yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan diakhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan yang menghalangi tercapainya kemenangan di dunia dan di akhirat itu.
Selain itu, Muhammad Natsir sangat konsen terhadap Pendidikan anak dalam Islam, sesuai yang dipahami Natsir, pada dasarnya adalah menjadi tanggung jawab ibu-bapak (orang tua). Hukumnya fadlu ‘ain. Karena anak, dalam pandangan Islam, adalah amanat bagi keduanya yang harus dididik dan dipimpin. Keduanya bertanggungjawab atas anak-anak mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S.At-Tahrim: 6)
Menurut Muhammad Natsir, maksud ayat ini adalah: “harus kita berikan kepada anak dan istri kita didikan yang memeliharanya dari dari kesesatan dan memberi keselamatan kepadanya di dunia dan akhirat. Sabda Rasulullah SAW: “Tiada seorang bayipun yang lahir melainkan dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nashrani.” (HR. Bukhari)
Mengurus pendidikan anak-anak orang Islam bukan hanya menjadi fardlu ‘ain bagi orang tuanya, tapi juga menjadi fadlu kifayah bagi tiap-tiap anggota dalam sebuah masyarakat. Beliau dasarkan pada firman Allah QS. Ali Imran: 104
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Kaum muslimin wajib mengadakan satu kelompok yang mengadakan pendidikan untuk anak-anak orang Islam, supaya pendidikan mereka tidak di’garap’ oleh orang-orang yang tidak sehaluan, tidak sedasar, tidak seiman, dan tidak seagama. hal ini sesuai dengan perintah Allah dan pesan Rasulullah SAW.
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (QS al Baqarah: 109)
II. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan Islam tersebut menurut pandangan Mohammad Natsir semestinya kurikulum pendidikan dapat disusun dan dikembangkan secara integral dengan mempertimbangkan kebutuhan umum dan kebutuhan khusus sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga akan tertanam sikap kemandirian bagi setiap peserta didik dalam menyikapi realitas kehidupannya. Beliau sangat tegas menolak teori dikotomi ilmu yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Makanya beliau menampik pemisahan pendidikan agama dan pendidikan umum. Dikotomi ilmu agama dan ilmu umum adalah teori yang lahir dari rahim sekularisme. Hal ini tentunya sesuai dengan pandangan al-Qur’an tentang manusia. Bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki unsur jasmani dan rohani, fisik dan jiwa yang memungkinkan ia diberi pendidikan. Selanjutnya manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah muka bumi sebagai pengamalan ibadah kepada Allah dalam arti seluas-luasnya. Ia tidak akan bisa melaksakan tugas ini sebaik-baiknya kecuali dengan penguasaan yang baik terhadap kedua ilmu ini.
Muhammad Natsir juga mengenalkan konsep tauhid sebagai dasar Pendidikan. Tauhid harus menjadi dasar berpijak setiap muslim dalam melakukan segala kegiatannya, diantaranya pendidikan. Muhammad Natsir juga menggariskan bahwa tauhid haruslah dijadikan dasar dalam kehidupan manusia, diantaranya dalam masalah pendidikan. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang diasaskan pada tauhid. Beliau berpandangan bahwa pendidikan tauhid harus diberikan kepada anak sedini mungkin, selagi masih muda dan mudah dibentuk, sebelum didahului oleh materi dan ideologi dan pemahaman lain. Supaya ia memiliki tali Allah untuk bergantung. Hasil dari pendidikan model ini akan melahirkan generasi-generasi yang memiliki hubungan kuat dengan penciptanya serta mengutamakan mu’amalah sesama makhluk. Dan inilah dua syarat wajib untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup, lahir dan batin. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Ali Imran:112
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu……… (QS. Ali Imran: 112)
Menurut Natsir, meninggalkan dasar tauhid dalam pendidikan anak merupakan kelalaian yang amat besar. Bahayanya, sama besarnya, dengan penghianatan terhadap anak-anak didik. Walaupun sudah dicukupkan makan dan minumnya, pakaian dan perhiasannya, serta dilengkapkan pula ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya. Semua ini, menurutnya, tidak ada artinya apabila meninggalkan dasar ketuhanan (ketauhidan) dalam pendidikan mereka. Natsir memandang bahwa lahirnya para intelektual muslim yang menentang Islam dan kelompok yang western-minded adalah akibat dari pendidikan yang tidak berbasis agama yang benar. Dari sinilah beliau melihat sisi pentingnya tauhid sebagai dasar dari pendidikan Islam.
III. METODE PENDIDIKAN ISLAM
Muhammad Natsir telah menempatkan dirinya untuk berada di jalan da’wah. Sehingga apapun yang dijalankan selalu disebatikan dengan misi da’wah. Kecerdasan yang ada pada pada diri beliau dan kuatnya keyakinan terhadap ajaran islam menjadikannya seorang penda’wah yang ulung. Dan kelebihan yang dimilikinya adalah mampu berda’wah dalam berbagai aspek, seperti politik, pendidikan, keilmuan, keperibadian dan tingkah laku. Selain itu objek da’wah yang disentuh tidak hanya untuk kalangan atau golongan tertentu, namun yang menjadi target da’wah adalah mencakup seluruh masyarakat. Baik golongan atas maupun golongan bawah, bahkan kiprahnya dalam da’wah mulai dari daerah, nasional hingga internasional. Dalam berda’wah di arena politik Pak Natsir terkenal dengan dua kalimat “berda’wah dijalur politik berpolitik dijalur da’wah”. Bagi Pak Natsir berpolitik adalah suatu medan da’wah, sehingga dalam prakteknya harus dilakukan dengan penuh kejujuran, keikhlasan dan sopan santun. Dalam berpolitik sangat tidak pantas kalau hanya menurutkan hawa nafsu dan menepikan hukum Allah. Berpolitik bukan untuk mencari kekuasaan tetapi yang sangat utama adalah mengutamakan kemaslahatan umat. Begitu juga dalam dunia pendidikan, menurutnya pendidikan merupakan sarana untuk berda’wah. Dengan menggunakan kurikulum pendidikan yang integral maka proses transformasi ilmu pada peserta didik dapat ditempuh melalui tiga tingkatan yaitu: metode hikmah, mauidzah dan mujadalah. Ketiga metode tersebut bersifat landasan normatif dan diterapkan dalam tataran praktis yang dapat dikembangkan dalam berbagai model sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi peserta didik. Dalam pandangan Natsir, dari beberapa metode yang diungkapkan di atas, terlihat metode hikmah lebih berorientasi pada kecerdasan dan keunggulan. Metode ini memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi kemampuan memilih saat yang tepat untuk melangkah, mencari kontak dalam alam pemikiran guna dijadikan titik bertolak, kemampuan memilih kata dan cara yang tepat, sesuai dengan pokok persoalan, sepadan dengan suasana serta keadaan orang yang dihadapi. Natsir menambahkan bahwa implikasi metode hikmah ini akan menjelma dalam sikap dan tindakan.
Metode-metode tersebut diatas sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat an Nahl ayat125:
äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl:125)
Hikmah menurut pandangan Natsir memiliki beberapa kategori. Pertama, hikmah dalam arti ‘mengenal golongan’, yaitu bagaimana seorang da’i dalam hal ini pendidik menyikapi corak manusia (peserta didik) yang akan dijumpainya. Masing-masing golongan manusia harus dihadapi oleh yang sepadan dengan tingkat kecerdasan, sepadan dengan alam fikiran dan perasaan serta tabiat masing-masing. Ayat di atas mengandung petunjuk pokok bagi Rasul dan para muballighin tentang bagaimana cara menyampaikan da’wah kepada manusia yang berbagai jenis itu. M. Natsir menukil pendapat Syaikh Muhammad Abduh yang membagi hikmah dalam tiga golongan: a) ada golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran, dan dapat berfikir secara kritis, cepat dapat menangkap arti persoalan. Mereka ini harus dipanggil dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dengan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuasaan akal mereka.b) Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzah al-hasanah, dengan anjuran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah difaham. c) Ada golongan yang tingkat kecerdasannya di antara kedua golongan tersebut, belum dapat dapat dicapai dengan hikmah, akan tetapi tidak sesuai pula , bila dilayani seperti golongan awam; mereka suka membahas sesuatu, tetapi tidak hanya dalam batas yang tertentu, tidak sanggup mendalam benar. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah bi al-lati hiya ahsân, yakni dengan bertukar fikiran, guna mendorong supaya berfikir secara sehat, dan satu dan lainnya dengan cara yang lebih baik.[19]
Adapun mau’idzah al-hasanah dan mujadalah bi al-lati hiya ahsân, kedua hal ini menurut Natsir lebih banyak mengenai bentuk da’wah, yang juga dapat dipakai dalam menghadapi semua golongan menurut keadaan, ruang dan waktu. Bentuk mujadalah, bertukar fikiran berupa debat, bisa dan tepat juga dipakai dalam menghadapi golongan cerdik pandai; bertukar fikiran berupa soal jawab yang mudah dapat dipakai juga dalam menghadapi golongan awam. Semua golongan ini memiliki unsur akal dan unsur rasa. Yang berbeda-beda ialah saat, keadaan dan suasana.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian gagasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Muhammad Natsir dalah tokoh nasional dan internasiaonal yang memiliki integritas pribadi dan komitmen yang kuat untuk memajukan bangsa dan negara dengan menjadikan Islam sebagai landasan motivasi perjuangannya. Kedua, Muhammad Natsir selain seorang negarawan yang handal, ia juga termasuk pemikir, arsitek pendidikan Islam yang serius. Ia menyadari dengan sungguhnya bahwa pendidikan merupakan media yang paling strategis untuk memberdayakan anak bangsa dengan memperhatikan pendidikan mereka sedini mungkin, khususnya umat Islam agar ia mampu menolong dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mampu memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa dan negara. Ketiga, sebagai pemikir dan arsitek pendidikan, Natsir selain menulis karya ilmiah yang berisikan gagasan dan pemikiran tentang pembaruan dan kemajuan pendidikan Islam, ia juga sebagai praktisi dan pelaku pendidikan yang terbukti cukup berhasil, ia tidak puas dengan sistem pendidikan Belanda yang sekuler dan dikotomis, dan juga pada pendidikan Islam tradisional, khususya pesantren dan madrasah yang hanya mementingkan ilmu-ilmu agama saja, sehingga lulusannya tidak dapat merebut peluang kerja pada sektor-sektor ekonomi, hukum, politik dan sebagainya. Keempat, Nastsir melihat bahwa masalah pokok untuk mengatasi keterbelakangan dalam pendidikan terletak pada tiga hal: (i) dengan merombak sistem yang dikotomis kepada sistem yang integrated antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. (ii) dengan merombak kurikulum dari kurikulum yang dikotomis menjadi kurikulum yang integrated (iii) dengan menggunakan metode-metode yang aplicable dan sesuai dengan syariat-syariat Islam. Kelima, gagasan dan pemikiran Natsir, baik dalam bidang kenegaraan maupun bidang pendidikan, tampak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Yang dimaksud faktor internal adalah kecerdasan, karakter dan kepribadian Natsir yang demikian kuat, tabah dan rela berkorban untuk memperjuangkan kebenaran yang diyakininya sekalipun harus dibayar dengan penderitaan. Dan yang dimaksud dengan faktor ekternal adalah penjajahan belanda yang telah menyengsarakan rakyat baik lahir maupun bathin, dan juga kondisi umat Islam sendiri yang bersikap pasrah, memusuhi ilmu pengetahuan, tidak menguasai manajeman dan cita-cita yang tinggi.
D. PENUTUP
Inilah gagasan serta pemikiran Muhammad Natsir dalam dunia pendidikan, yang membuktikan bahwa beliau seorang tokoh Islam yang memiliki pandangan luas tentang kemaslahatan umat Islam. Semoga kita sebagai generasi yang datang sesudahnya mampu mengembangkan pemikiran-pemikiran beliau untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab!!!

Bantuan pendidikan_ SMK semi pesantren modern

SMK ISLAM

Dewasa kini banyak lembaga - lembaga pendidikan islam yang menawarkan berbagai macam pola pendidikan yang dikemas sedemikian rupa. dengan berbasis bahasa, teknologi dan juga manajemen kehidupan yang ulet dan siap bekerja keras terhadap semua peserta didiknya. semua itu memanglah sudah baik dengan banyak terjadinya perubahan - perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. peserta didik (santri) dituntut agar mampu menguasai 2 kajian keilmuan:
  1. Keilmuan Duniawi (Technoligi, Sains Dll.)
  2. Keilmuan Ukhrowi (Agama/Religis)
belakangan ini banyak lembaga - lembaga yang berupaya menciptakan suatu inovasi baru didunia pendidikan dengan menyetukan antara sekolah dan pesantren yang sering kita sebut "Boarding School". Boarding School inilah yang merupakan salah satu jalan terbaik untuk menciptakan generasi muda yang mempunyai kemampuan intelektual 2 kajian keilmuan (Duniawi dan Ukhrowi).
Selain mempunyai kajian keilmuan tersebut, semua itu harus disertai dan dibarengi dengan Moralitas, Mentalitas dan Akuntabilitas untuk menciptakan santri yang madani.
YAYASAN INSAN TAQII AL FAQIH ingin menyelenggarakan pendidikan yang membekali nilai-nilai Islam dan terwujud dalam aplikasi kehidupan, sehingga ia tampil menjadi manusia yang utuh. pada intinya bagaimana mengantarkan mereka sukses dunia dan akherat.

untuk merealisasikan ini yayasan minta doa' restu dan dukungan material demi terwujudnya cita-cita yang diharapkan. salurkan donasi anda untuk pengembangan pendidikan melalui rek Bank Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih, atas partisipasinya kami uacapkan jazakumullah khoeron katsira

Bantuan pendidikan_memilih sekolah

Tidak terasa, kita sudah memasuki tahu ajaran baru. Kesibukan orang tua untuk menyekolahkan anaknya, menjadi rencana tersendiri. Bahkan lebih prioritas dibanding rencana-rencana lain. Termasuk juga disini mengenai masalah anggaran yang harus dikeluarkan. Orang tua pun berharap dapat menyekolahkan anaknya di sebuah institusi pendidikan yang bermutu dan mempunyai kualitas teruji. Mungkin dengan bayaran sekolahnya yang selangit. Ada pandangan bahwa, sekolah yang baik itu bayaran sekolahnya juga tinggi. Atau pun sebaliknya. Pandangan yang lain adalah melihat gedung sekolahnya terlebih dahulu, kalau sekiranya dilihat dari luar sekolahnya megah, dapat dipastikan memunyai fasilitas lengkap dan kualitas bagus. Nah, kualitas disini terkadang menjadi suatu kerancuan.
Ketidaktahuan orang tua beralasan, karena orang tua memang perlu tahu kualitas sekolah sebelum menyekolahkan anaknya. Ketidaktahuan orang tua disebabkan oleh kurangnya informasi sekolah dalam mengenalkan profilnya. Juga kurangnya antusiasme orang tua untuk sekedar menanyakan kualitas sekolah kepada pihak yang bersangkutan atau menanyakannya kepada orang yang tahu perihal sekolah tersebut. Kalau perlu sebagai langkah promosi sekolah, ada baiknya mengundang para orang tua untuk mengikuti presentasi yang diselenggarakan pihak sekolah. Sekaligus memberi ruang tanya jawab perihal sekolah yang ingin diketahui oleh orang tua. Dengan begitu paling tidak terbukalah satu pintu masuk untuk mengenal sekolah.
Mengukur kualitas sekolah itu ada beberapa cara:
Pertama, kita bisa melihat kompentensi guru-guru yang mengajar. Kepedulian dan keseriusan menjadi faktor pendukung terciptanya sekolah yang berkualitas. Kompetensi seorang guru dapat diwujudkan dalam penelitian atau tingkat produktifitas dalam mengembangkan ilmunya. Kompetensi ini tidak hanya dilihat sebatas dalam bidangnya masing-masing, namun juga proses pendampingan dan pembinaan seorang guru terhadap peserta didik.
Kedua, fasilitas pendukung terciptanya belajar mengajar. Fasilitas ini sangat perlu sebagai sarana pembelajaran lebih konkret dan dialami langsung oleh peserta didik.
Ketiga, metode pendidikan dan pengajarannya. Metode ini bisa menjadi sarana memudahkan materi pelajaran agar dapat diterima oleh peserta didik dengan baik. Metode ini juga memberi pengaruh terhadap pola pikir peserta didik dalam menyikapi pola belajar. Baik itu praktek di lapangan maupun teori di kelas menjadi satu kesatuan yang saling mendukung
Keempat, kurikulum pendidikan. Walaupun kurikulum pendidikan sudah merata disetiap sekolah. Namun perlu diketahui juga, bagaimana implementasinya terhadap peserta didik. Sejauh mana keterkaitan bahan materi dengan konteks lapangan kerja sekarang. Secara khusus berkaitan dengan sekolah kejuruan. Kurikulum ini tidak hanya intrakurikuler namun juga ekstrakurikuler. Eskul ini menjadi tambahan pelajaran guna mengetahui sejauh mana potensi peserta didik dalam mengembangkan talentanya. Adanya ruang terbuka untuk menyalurkan hobi peserta didik merupakan salah satu tanda kepedulian sekolah dalam membangun pendidikan.
Kelima, Prestasi sekolah. Sekolah bermutu dapat diamati dari sepak terjang sekolah di dunia pendidikan. Salah satunya adalah mencetak prestasi melalui ajang olah raga, science, olimpiade, dsbnya. Sehingga membawa nama sekolah dikenal oleh publik.
Keenam, visi dan misi sekolah. Yang terakhir ini, terkadang seing terlupakan oleh orang tua. Yaitu visi dan misi serta arah pendidikan sekolah tersebut. Mengapa ini sangat perlu? Visi dan misi ini merupakan ROH sekolah tersebut. Penggerak siapapun yang berkarya di sekolah tersebut. Sekolah akan menjadi HIDUP apabila ROH ini merasuki siapapun. Jelas arah pendidikannya dan mampu mendidik peserta didik secara mental. Visi dan misi inilah yang menjadi pondasi dasar arah pendidikan setiap sekolah. Sekolah akan selalu disemangati oleh visi misi ini.
Seperti di sekolah dimana tempat saya mengajar dulu memunyai visi dan misi sebagai berikut:
Visi: Menciptakan tatanan baru bagi masyarakat Papua yang sedang merindukan pembebasan diri dari kebodohan dan pengembangan diri sesuai dengan jati dirinya. Oleh karena itu, Yesuit terpanggil untuk menyumbangkan kemampuan-kemampuan dan kekayaan rohani yang dimiliki untuk memberdayakan putera-puteri Papua, khususnya dalam dan melalui pendidikan.
Misi: • Menjadi pribadi unggul dalam intelektual, dengan bersedia belajar terus-menerus, • Menjaga kemurnian hati nurani • Bertanggung jawab penuh dan terlibat nyata dalam hidup bersama di sekolah dan masyarakat

Rabu, 04 Agustus 2010

Pusat pendidikan- Islamic sains

Yayasan Insan Taqii Al Faqih ingin mengadakan terobosan barunya dibidang pendidikan Islam dengan merencanakan program pendidikan dimulai dari tingkat SMA/SMK semi pesantren, dimana siswa-siswa tinggal di asrama sekitar tempat bersekolah. pogram-program pesantrn disajikan secara alami dengan pebiasaan mempelajari dan melaksanakan ajaran islam . Dengan pola seperti ini diharapkan Islam mampu melekat pada mereka, sebab akhir-akhir ini lembaga pendidikanIslam utamanya banyak mengalami kesulitan dalam penanaman nilai-nilai Islam yang telah diajarkan pada siswa.

Program pemula yang insya Allah akan diselenggarakan adalah program SMK Islam dengan keahlian: Farmasi , multimedia, olah hasil petanian.

Oleh sebab itu Yayasan Insan Taqii Al Faqih minta doa' dan dukungan dari kaum muslimin semua agar mampu berkiprah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan geerasi Islam yang handal dibidangnya.

Bantuan Pendidikan

Melalui Wakaf Tunai ???

Sejarah Islam mencatat bahwa Wakaf Tunai (cash waaf) telah dijalankan sejak awal abad ke-2 hijiyah. Imam Buchari meriwayatkan bahwa Imam Az-Zuhri (w 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits telah menetapkan fatwa bahwa: "Mewakafkan dinar hukumnya boleh dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian keuntungannya disalurkan pada mauquf'alaih." (Lihat Abu Su'ud Muhammad, Risalah fi jawazi waaf al-nuqud. Bairut: Dar Ibn Hazm. 1997. pp. 20-21).

Sedang Abu Tsur meriwayatkan dari Imam Syafi'i tentang dibolehkan wakaf dinar dan dirham/uang. (Lihat Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, tahqiq Dr. Mahmud Mathraji. Bairut: Dar al-Fikr. 1994. Juz IX. p. 379).

Begitu juga komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 28 Shafar 1423 H (11 Mei 2002 M) telah menetapkan fatwa tentang wakaf uang sebagai berikut:

1. Wakaf uang (cash waaf/waqf al-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
2. Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.
3. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).
4. Wakaf uang yang boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar'iy.
5. Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijuan, dihibahkan dan atau diwariskan.


1.



Berdasarkan ketiga fatwa tersebut, maka wakaf tunai (wakaf uang) akan memperbesar kesempatan bagi siapapun untuk berwakaf. Besarnya wakaf tunai bisa sangat variatif jumlahnya. Sehingga wakaf tunai memiliki fleksibilitas (keluwesan) dan kemaslahatan besar yang tidak dimiliki oleh benda lainnya.

Kemudian melalui wakaf tunai ini, dana wakaf yang terhimpun dapat menopang kesulitan keuangan pada lembaga-lembaga pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial Islam. Caranya dengan menjadikan uang (wakaf tunai) tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya untuk wakaf sarana-prasarana pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial Islam. Sehingga memberikan alternatif membuat umat Islam mampu mengembangkan pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial secara mandiri.

Sebagai contoh Al-Azhar University di Kairo, University Zaituniyyah di Tunis, dan Madaris Imam Lisesi di Turky begitu besar serta mampu bertahan hingga kini meski tak berorientasi pada keuntungan. Mereka tak hanya mengandalkan dana pengembangan dari pemerintah, namun wakaf tunai dijadikan alternatif sumber utama pembiayaan segala aktivitas baik administratif maupun akademis.

Yayasan Insan Taqii al Faqih sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan sosial telah memperkenalkan wakaf tunai sebagai modal dasar yang digunakan untuk menunjang pembangunan dan pengembangan pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan membantu mengembangkan pasar modal sosial yang di canangkan yayasan . Dengan kata lain, dana yang terhimpun dari wakaf tunai akan dikelola untuk kegiatan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial umat Islam

Adaun wakaf yang dinominalkan sebagai berikut :

Wakaf Tunai sebesar Rp 100.000,-
Wakaf Tunai sebesar Rp 500.000,-
Wakaf Tunai sebesar Rp 1.000.000,-
Wakaf Tunai sebesar Rp 5.000.000,-
Wakaf Tunai sebesar Rp 10.000.000,-

Bagi umat Islam yang tertarik untuk investasi dunia akhirat, program Sertifikat Wakaf Tunai dari Baitul Maal Babussalam merupakan pilihan paling tepat. Sebab dengan dukungan program Sertifikat Wakaf Tunai Yayasan Insan Taqii al Faqih mampu mewujudkan cita - citanya menjadi pusat pendidikan Islam yang berrdayasaing dalam arus globalisasi. Dana yang saudar wakafkan digunakan sepenuhnya untuk pengembangan pendidikan terutama pengadaan fasilitas yang memadai.

Salurkan wakaf tunai anda melalui : Yayasan Insan Taqii Al Faqih Muamalat syar'i (Banyumas ) 9235569906 atau datang langsung, Email : insantaqialfaqih@Gmail.com

Bantuan Pendidikan_Manfaat Pendidikan

MANFAAT PENDIDIKAN ISLAM (IMPORTANCE OF ISLAMIC EDUCATION)
Pentingnya pendidikan Islam mungkin dapat dipahami secara baik jika kita memperhatikan kembali wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Kata pertama dari wahyu itu adalah Iqra yang berarti bacalah. Iqra adalah sebuah kata yang sangat menyeluruh. Ayat ini telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan pengikut beliau untuk membaca, menulis, memahami, berbagi dan menyebarkan dengan segala kemampuan yang dimiliki.
Kata Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan bobot pentingnya. Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ‘qalam’ atau pena. Sesungguhnya pena adalah suatu hadiah yang mulia dari Allah SWT kepada umat manusia. Hanya manusia yang mendapat perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai oleh mereka kepada generasi yang akan datang. Tentu saja rekaman audio dan video adalah alternatif yang modern dari suatu pena.
Bagaimana dan sejak kapankah proses belajar mengajar dimulai? Perlu diketahui bahwa perintah pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah memajukan pendidikan, seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shuara 214

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Oleh karenanya, proses pendidikan harus dimulai dari keluarga kita sendiri. Pada kenyataannya ini merupakan cara yang dilakukan oleh seluruh Nabi dan Rasul.
Allah SWT juga berfirman kepada orang beriman dalam Al Qur’an. At Tahrim 6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Para Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “ Bagaimana kita menyelamatkan keluarga kita dari api neraka?” Rasulullah SAW berkata “Dengan memberi mereka pendidikan Islam.”
Dengan cara yang sama Allah SWT telah memerintahkan kita dan keluarga kita untuk mendirikan Shalat dengan sangat teratur. Taha 132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Karenanya pendidikan dan aplikasinya harus dimulai dari keluarga-keluarga kita sendiri. Pendidikan seperti in akan mempunyai akar yang kuat karena anggota keluarga lebih mengenali ketulusan kita dan usaha mulia lainnya. Orang luar bisa mencap kita orang munafik atau gila.
Apakah tujuan yang paling utama dari nenek moyang kita di dalam hidup mereka? Dalam rangka mencari suatu jawaban bagi pertanyaan ini, baiklah kita perhatikan peristiwa yang bersejarah ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun rumah Allah SWT di Makkah. Setelah meyelesaikan tugas ini, mereka lebih merendahkan dirinya lagi dengan memanjatkan permohonan penting berikut ini, Al Baqarah 128

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Karenanya tujuan nenek moyang kita adalah untuk memperoleh pendidikan dan untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka sehingga mereka bisa bersungguh-sungguh bersikap tunduk kepada kehendak Allah SWT. Dalam rangka mencapai tujuan ini, mereka memanjatkan doa yang historis ini, Al Baqarah 129

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah SWT mengabulkan doa nenek moyang kita ini, dan mengirim Nabi Muhammad SAW untuk menyelesaikan tujuan pendidikan tersebut. Perhatikan bahwa diantara semua karunia Allah SWT kepada umat manusia, kebaikan yang paling utama adalah memberi petunjuk kepada hambaNya. Allah SWT mengingatkan kita atas kebaikan Nya di dalam surat Ali Imran 164

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Mari kita teliti bagaimana Nabi Muhammad SAW menyelesaikan sasaran dan tujuan ini. Nabi Muhammad SAW segera membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah hijrahnya dari Makkah ke Madinah. Cukup lama masjid ini tidak beratap karena ketiadaan sumber daya keuangan. Para Sahabat Nabi Muhammad SAW shalat di dalam masjid ini di bawah panas terik dalam jangka waktu lama. Kita mencatat bahwa pada waktu itu suatu ruangan di Masjid itu telah dikhususkan untuk proses belajar mengajar. Banyak dari para Sahabat yang biasa tinggal di dalam ruangan ini siang dan malam. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan belajar mengajar saja tetapi juga makan dan tidur disana. Dr. Hameedullah menyebutnya sebagai suatu universitas pesantren.
Mari kita lihat bagaimana universitas ini beroperasi pada waktu itu. Kita mencatat bahwa sekali waktu Saad bin Ubada RA mengundang delapan puluh siswa dari universitas ini untuk makan malam. Ini menunjukkan bahwa banyaknya jumlah siswa adalah sangat besar dan bahwa orang-orang kaya membantu institusi dalam cara apapun yang mereka mampu. Kita juga mencatat bahwa Muadh bin Jabal RA memberikan terlalu banyak derma sehingga terlibat hutang. Oleh karena itu ia harus menjual rumahnya untuk membayar hutangnya. Sehingga ia tidak mempunyai tempat tinggal. Karena keadaan ini ia harus tinggal di universitas ini. Tetapi bagaimanapun, ia tidak ingin menjadi beban yang tak perlu bagi universitas itu. Kemudian ia ditugaskan untuk menjaga buah kurma yang belum matang, sumbangan dari penduduk bagi universitas. Karenanya, semua orang harus membantu kegiatan institusi dalam bentuk apapun yang bisa dilakukan. Kita bisa tambahkan di sini bahwa ketika Muadh bin Jabal dilantik menjadi gubernur Yaman, ia diperintah oleh Nabi SAW untuk membangun lembaga pendidikan di tiap kota dan memastikan bahwa lembaga-lembaga ini berjalan dengan produktif.
Para siswa tinggal di universitas hanya karena kecintaan mereka untuk belajar. Sebagai contoh, Abdullah bin Umar RA menganggap waktu perjalanan antara Quba dan Madinah terbuang sia-sia, maka ia lebih menyukai untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dan tinggal di pesantren. Terakhir kita mencatat bahwa ada seorang siswa dari universitas ini yang meninggal. Mereka menemukan dua dinar di dalam saku nya ketika pemakamannya sedang disiapkan. Nabi SAW memperlihatkan suatu tanda kejengkelan dan berkata: “Seseorang yang memiliki dua dinar tidak layak makan cuma-cuma di dalam universitas ini.” Ini memberi pengajaran kepada kita bahwa tak seorangpun diijinkan untuk mengambil keuntungan yang tak pantas dari berbagai fasilitas institusi pendidikan. Ini memberi kita beberapa masukan tentang cara berfungsinya universitas pesantren pada masa Nabi SAW. Semua rincian ini didapat dari kuliah Dr. Hameedullah di Universitas Bahawalpur.
Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya menuju masjid dan menemukan dua kelompok sahabatnya di dalam masjid itu. Satu kelompok sibuk berdzikir kepada Allah SWT, sedang kelompok yang lain sibuk dengan proses belajar mengajar antara mereka. Kedua kelompok sungguh-sungguh melakukan kegiatan yang menguntungkan. Tetapi bagaimanapun, Nabi Muhammad SAW lebih menyukai untuk bergabung dengan orang yang sedang dalam proses belajar mengajar. Hal ini menunjukan kecintaan dan pentingnya pendidikan Islam di dalam pikiran beliau. Beliau biasa bersabda : “Aku tidak ingin ada hari berlalu dimana aku tidak mempelajari sesuatu hal yang baru.”
Para siswa di universitas pesantren Madinah ini disebut As’Hab-us-Suffah.
Kita lebih lanjut mencatat bahwa ketika perang Badar beberapa tawanan perang tidak bisa membayar tebusan. Kemudian Nabi SAW meminta masing-masing di antara mereka untuk memberi pengajaran kepada sedikitnya sepuluh Orang Islam sebagai tebusan mereka. Beliau tidak ragu-ragu menggunakan guru non Muslim ketika jumlah guru Islam tidak tersedia.
Pada suatu ketika seorang anak laki-laki berusia 9 tahun sedang menaiki punggung Nabi SAW. Nabi SAW bersabda kepadanya: “Hai anak muda, beri aku kesempatan memberimu beberapa kata-kata bijak. Jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul bersama-sama untuk memberi manfaat bagimu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat bagi kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tetapkan untukmu. Begitu pula jika segala sesuatu dan semua orang berkumpul untuk merugikan kamu, mereka tidak akan bisa merugikan kamu kecuali apa yang Allah SWT telah tuliskan untukmu.”
Kita heran mengapa Nabi Muhammad SAW memberi pengajaran kata-kata bijak setinggi itu kepada anak semuda dia. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW benar-benar memahami potensi para pemuda. Nama anak muda ini adalah Abdullah bin Abbas RA. Sebagai hasil ajaran ini, Abdullah menjadi salah satu anggota dewan penasehat bagi Umar RA ketika Kekalifahan Islam telah menyebar luas ke beberapa benua. Anak muda inilah yang menjalankan urusan harian dari Kekalifahan Islam yang sangat besar ini. Anggota lain dari dewan penasehat ini adalah para Sahabat Nabi Muhammad SAW yang jauh lebih tua. Mereka merasa canggung dengan adanya anak muda ini sebagai rekan mereka. Umar RA merasakan keberatan ini. Kemudian ia bertanya kepada mereka “Apa pendapat anda tentang situasi ketika Surat An Nasr diturunkan?”
Mereka menjawab bahwa itu menyangkut penaklukan Makkah ketika sejumlah besar orang-orang masuk agama Islam. Umar RA menanyakan pertanyaan yang sama kepada Abdullah bin Abbas RA. Abdullah berkata: “Aku berpikir itu mengingatkan bahwa misi dari Nabi Muhammad SAW telah hampir terpenuhi dan beliau akan meninggalkan kita.” Umar RA menjawab: “Aku berpendapat yang sama.” Kita lebih lanjut mencatat bahwa ini adalah surat terakhir yang diwahyukan kepada Nabi SAW secara lengkap dan setelah turunnya wahyu ini Nabi SAW mengubah dzikirnya dari:
menjadi:
Aisyah bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau merubah dzikirmu?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku telah diperintah untuk melakukannya.” Dan kemudian beliau mengulang surat An Nasr. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa potensi para pemuda adalah luar biasa dan jika digunakan dengan baik, hal itu dapat menciptakan keajaiban.
Nabi Muhammad SAW juga mengutamakan pendidikan Islam bagi para wanita. Kita mencatat suatu pengamatan menarik di sebuah buku yang paling tua dalam sejarah yang disebut Al Maghazy dari Ibnu Ishaq. Menurut buku ini yang baru saja diterbitkan di Marocco, Nabi Muhammad SAW biasa mengajarkan ayat-ayat yang turun kepada suatu kelompok laki-laki segera setelah ia menerimanya. Kemudian ia akan mengajarkannya kepada suatu kelompok wanita juga, menandakan pentingnya arti pendidikan Islam bagi para wanita. Ada beberapa perkataan Muhammad SAW yang mengacu pada hal ini. Salah satu dari Hadits menyebutkan, “Siapapun yang mempunyai tiga putri dan bersabar di dalam membesarkan mereka. Itu akan menjadi suatu perlindungan untuk dia dari hukuman api neraka.” (Bukhari)
Hadits kedua menyatakan, “Siapapun mempunyai tiga putri yang diberinya tempat berteduh, dukungan, dan mengasihi mereka, surga adalah pahala yang dijanjikan untuk nya.” (Bukhari)
Pendidikan Islam selalu menjadi prioritas utama di dalam pikiran pemuka-pemuka Islam, bahkan di dalam keadaan yang sangat buruk. Imam Shafi’i menjadi yatim piatu ketika ia masih kecil. Ibunya meninggalkan dia dengan saudaranya karena tidak sanggup membesarkannya dan ibunya kembali kepada orang tuanya.
Imam Shafi’i menghafalkan keseluruhan Al Qur’an ketika ia baru berusia tujuh tahun. Ia juga mendapat pendidikan Islam lainnya. Ia pindah ke Makkah dengan pamannya dan mendapat pendidikan tambahan Islam dari ulama terkemuka waktu itu. Kemudian ia ingin menjadi murid dari Imam Malik di Madinah. Ia tidak punya uang untuk biaya perjalanan dan kebutuhan pribadi. Ia memperoleh suatu surat rekomendasi dari guru nya di Makkah untuk permohonan beasiswa. Imam Shafi’i menyerahkan surat ini kepada Imam Malik yang membacanya dan kemudian menjadi marah, “Apakah kamu berpikir pendidikan Islam hanya mengandalkan surat rekomendasi saja.” Tetapi bagaimanapun Imam Malik melihat bakat dari anak muda ini. Ia tidak saja hanya menerima sebagai siswanya tetapi juga melengkapi segala kebutuhan nya dari sakunya sendiri. Imam Shafi’i membuktikan dirinya berbeda di antara para siswa Imam Malik lainnya.
Dengan cara yang sama, kita temukan suatu situasi yang menarik pada Imam As Sarakhsy yang hidup di abad kelima setelah Hijrah. Ia adalah seorang tenaga ahli dalam masalah hukum Islam dan sangat berani dan jujur. Para penguasa pada masanya memaksakan pajak yang tak adil kepada rakyat. Sesungguhnya para penguasa itu memboroskan uang dan ingin membebani rakyat lebih banyak lagi. Imam As Sarakhsy mengajarkan rakyat untuk tidak membayar pajak itu. Penguasa tidak bisa membunuh dia, tetapi mereka memenjarakan Imam di dalam suatu sumur mati. Imam tinggal selama empat belas tahun di dalam sumur itu. Ia mendapat ijin dari pengawalnya untuk mnerima kunjungan para siswanya untuk duduk di tepi sumur. Imam mendiktekan kepada para siswanya penjelasan dari buku As Sayr Al Kabeer yang ditulis oleh seorang siswa Imam Abu Hanifa. Penjelasan ini ditulis dalam empat jilid. Dengan cara yang sama, Imam As Sarakhsy mendiktekan secara lisan dan membukukan Kitab Al Mabsoot dalam tigapuluh jilid. Lusinan buku lain juga ditulis dari sumur mati ini oleh Imam As Sarakhsy.
Kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf biasa memberikan pendidikan kepada para narapidana lainnya ketika ia dipenjara. Karenanya proses belajar mengajar harus terus-menerus dilakukan.
Seharusnya, suatu pertanyaan timbul di benak kita: “Apa yang kita peroleh dengan menuntut dan menyampaikan pendidikan Islam?” Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Ath Thur 21

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Dengan kata lain, jika anak-anak ternyata masuk ke surga dengan tingkat yang lebih rendah dibanding orang tua mereka, kemudian orang tua berharap bahwa keseluruhan keluarga dipersatukan didalam surga. Allah SWT berjanji disini untuk mempersatukan mereka, dengan syarat bahwa anak-anak mempunyai iman sebaik orang tua mereka dan bahwa mereka mengikuti jejak orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebagian orang akan mendapatkan diri mereka di dalam tingkatan surga yang sangat tinggi. Mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa mencapai tingkatan sangat tinggi ini, karena amal perbuatan mereka bukanlah yang sangat tertinggi.
Allah SWT akan berkata kepada mereka, ‘Kamu meninggalkan anak-anak yang selalu berdoa untukmu, dengan setiap doa yang mereka panjatkan, tingkatanmu di surga naik lebih tinggi dan semakin tinggi.’” (Musnad Ahmad)