Senin, 20 September 2010

Bantuan pendidikan_Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia


untuk
Sistem pendidikan di Indonesia merupakan masalah pelik yang tak berkesudahan. Sistem pendidikan yang dibangun berdasarkan sistem sekular-materialistik ini, diakui atau tidak, akhirnya malah membuat negeri ini tak kunjung bangkit dari keterpurukan nasional.
Hari ini, masalah pendidikan berkutat di mahalnya biaya, rendahnya mutu pendidikan, dan rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan. Hal ini masih ditunjang dengan angkat tangannya pemerintah dalam bidang ini, dengan perubahan bentuk badan hukum sarana pendidikan menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), dan diterapkannya kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
Berubahnya sekolah dalam bentuk badan hukum, menjadikan sekolah bebas untuk mematok harga setinggi-tingginya sebagi alasan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sekolah menjadi wajib untuk mencari sumber dana pendidikan sendiri. Pemerintah menjadi tidak wajib lagi untuk mensejahterakan sekolah, dan menjamin setiap warganya untuk dengan mudah mengakses pendidikan bermutu.
Akibat paradigma diatas, kualitas kepribadian anak didik di Indonesia pun semakin memprihatinkan. Di ASEAN saja, Indonesia hanya mampu masuk pada tingkat ke 6 untuk indeks pendidikan, diatas negara-negara kecil ASEAN, yaitu Myanmar, Kamboja dan Laos.
Dalam konteks pendidikan Islam, Indonesia dewasa ini memang telah banyak memiliki pondok pesantren modern, dimana memiliki pendidikan Iptek dan Aqidah yang sejajar. Tetapi secara umum, pendidikan Islam selama ini hanya masuk sebagai muatan lokal yang ringan dan tidak signifikan. Pendidikan yang berbasis sekular ini, memisahkan kelembagaan pendidikan agama dengan lembaga pendidikan umum. Dikotomi pendidikan ini, tampak kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan pendidikan ilmu kehidupan (Iptek) yang diselenggarakan oleh Depdiknas tidak ada hubungannya dengan pendidikan agama yang diselenggarakan oleh Departemen Agama. 
Dalam kurikulum pendidikan umum, pendidikan agama memiliki cakupan yang tidak proporsional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran lainnya. Sehingga, tujuan pendidikan Nasional yang bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya masih merupakan pertanyaan dengan tanda tanya besar.
Hasil dari sistem pendidikan ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains – teknologi, tetapi gagal dalam mewujudkan kepribadian yang Islami dan penguasaan tsaqafah Islam. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan Agama memang menguasai tsaqafah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya sektor-sektor modern (industri, manufaktur, perdagangan, dan jasa ) diisi oleh orang yang awam terhadap agama, sedangkan orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag ), tidak mampu terjun di sektor modern.
Memang, dewasa ini kita banyak memiliki pesantren modern (boarding school) dan sekolah Islam terpadu (fullday school) yang bertujuan untuk melindungi generasi muda dari pendidikan yang salah dan memberikan pendidikan Islam dan Iptek secara terpadu dan sejajar sehingga menghasilkan anak didik yang sesuai dengan harapan.
Kita dapat melihat betapa usaha-usaha itu dilakukan atas kecintaan umat kepada Islam dan generasi penerusnya. Dan tanpa mengurangi rasa penghargaan kita terhadap usaha itu, kita bisa secara obyektif melihat kelebihan dan kekurangan dari sekolah terpadu dan pesantren modern, untuk dapat lebih meningkatkan kelebihan yang dimiliki dan menutupi kekurangan yang ada.
Secara pembiayaan, sekolah-sekolah ini relatif mahal, tidak terjangkau oleh kalangan ekonomi lemah. Materi yang diberikan memang lebih banyak pada tsaqafah Islam dibandingkan sekolah umum, tetapi karena kurikulum pendidikan ditentukan oleh negara, pembentukan Syakhsyiyyah islamiyyah (kepribadian Islam) tidak menjadi program utama, tetapi lebih menekankan pada Ma’arif Islamiyyah (pengetahuan Islam). Pada interaksi lulusan anak didik dengan masyarakat, mereka tidak mampu untuk mengemban ideologi Islam karena aplikasi Islam yang diajarkan hanya pada ibadah ritual dan akhlak semata.
Hal tersebut diatas juga terjadi di sekolah-sekolah umum yang berbasis Islam, baik yang terakreditasi baik maupun sedang. Pendidikan yang memang harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, membuat para pengajar hanya bisa melakukan transfer ilmu dan bukan melakukan pendidikan karena terbatasnya waktu dan kurikulum yang ada.
Pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini tidak terbukti berhasil mencetak generasi yang rata-rata atau mayoritasnya menjadi pengemban ideologi Islam. Yang ada justru sebaliknya, umumnya alumni pondok pesantren ataupun sekolah Islam larut dalam lingkungan masyarakat pergaulannya. Yang bertemu penganut sosialis, menjadi aktivis sosialis kiri, yang bertemu paham sekular liberalis, menjadi aktivis gerakan sekular liberal, dan yang bertemu dengan gerakan Islam, menjadi aktivis gerakan Islam.
Pendidikan Islam yang Sebenarnya (Seharusnya)
Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam di dasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya.
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sebuah negara, atas dasar tersebut diatas, negara tidak hanya berkewajiban menyediakan pendidikan yang bebas biaya, tetapi juga berkewajiban bertindak sebagai penyelenggara sistem pendidikan yang berkualitas dengan asas pendidikan akidah Islam dan tujuan untuk mengembangkan manusia yang berkepribadian Islam, menguasai Tsaqafah Islam , menguasai ilmu kehidupan yang memadai, yang selalu menyelesaikan masalah kehidupannya sesuai syariat Islam.
Seorang peserta didik harus dikembangkan semua jenis kecerdasannya, intelektual, spiritual, emosional dan politiknya, karena semua itu diperlukan dalam menjalankan kehidupan. Negara juga berkewajiban menyediakan SDM pendidik dan tenaga pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan ilmu yang diperlukan. Untuk itu, sekolah untuk calon pendidik pun harus bermutu dan tersedia fasilitas yang memadai.
Swasta boleh saja menyediakan pula sarana pendidikan, dan dengan pembinaan negara, tidak berarti dengan itu negara bisa berlepas tangan dengan kewajiban pendidikan. Negara berkewajiban pula mendorong peningkatan peran dan kemampuan keluarga dalam mendidik dan mendorong terciptanya suasana kondusif bagi pendidikan di masyarakat.
Insya Allah, dengan metode pendidikan yang didasarkan atas syariat Islam dan hukum Islam, pendidikan Islam di Indonesia akan menjadi sebuah fenomena baru yang mampu menciptakan generasi yang islami dan berkepribadian Islam.
Wallahu a’lam Bisshawab....

Tulisan ini dapat pula di akses di www.ukki-umg.co.cc


Bantuan pendidikan - Pendidikan tradisional dan modern


BAB I
PENDAHULUAN


Dari dua hal diatas yang mana perbedaanya sangatlah jauh, dimana pendidikan modern mungkin saat ini menjadi pilihan bagi sekolah-sekolah yang ada namun hasil dari kedua bentuk pembelajaran itu juga memiliki perbandingan yang juga tidak kalah jauhnya dari perbedaan diatas.

Dalam system pendidikan tradisional yang kini sudah sangat jarang digunakan lebih banyak menekankan nilai nilai moral dan tatanan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga lulusan yang dihasilkan bisa dikatakan bisa lebih mapan dan diterima di tengah tengah masyarakat.

Saya sangat prihatin melihat hasil lulusan yang sekarang, sangatlah berbeda dengan lulusan lulus yang jauh diatas saya. Banyak kita temukan saat ini bahwa siswa tingkat XI tidak memahami pancasila dan UUD 45. Jangankan faham hafal saja tidak. Bahkan tidak jarang mereka juga tidak tau lagu Indonesia raya.

Bagi sebagian orang mungkin hal ini bukanlah hal yang penting, tapi disinilah tolak ukur yang bisa dilihat oleh kasat mata bahwa pendidikan modern tetap harus didampingi oleh sytem tradisional.

Saya masih ingat betul bahwa setiap akan melakukan ujian dimanapun bahkan saat akan memasuki dunia kerja, saya dan teman teman selalu mendatangi rumah guru guru kami semasa TK hingga guru-guru kami saat duduk di bangku SMA untuk meminta restu beliau beliau, dan hal yang sama dilakukan oleh senior-senior kami meski saat ini sudah banyak yang berkeluarga.

Hal yang demikian sudah jarang sekali saya temukan. Setelah lulus ya sudah.....bahkan ada sebagian siswa yang menyebut guru - gurunya dengan sebutan "BEKAS GURUKU" hal yang sangat menyakitkan untuk didengar.

System pendidikan yang bagaimanakah yang harus kita terapkan di dunia pendidikan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Kalau saya pribadi adalah menggabungkan keduanya, dan berusaha menjadi seorang guru yang disegani bukan ditakuti.


BAB II
PEMBAHASAN

PERBANDINGAN PENDIDIKAN MODERN DENGAN PENDIDIKAN TRADISIONAL

Pendidikan Tradisional :
Guru berbicara murid menyimak
One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan
Tatanan bangku berurut
Masih diberlakukan bentuk hukuman fisik bagi siswa yang tidak taat
Pendidikan Modern :
Guru sebagai fasilitator
Peserta didik juga pelaku pendidikan
Memanfaatkan perkembangan media pembelajaran
Tidak melakukan hukuman fisik
Tempat pembelajaran bisa dimana saja


PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN TRADISIONAL DENGAN MODERN
(KAJIAN SISTEM PENDIDIKAN DI NEGARA JEPANG DAN AMERIKA)

Jepang membuat kejutan baru. Kali ini berkaitan dengan sistem dan prestasi di bidang pendidikan. Banyak pengamat pendidikan dan pembangunan di Amerika Serikat melihat bagaimana sistem pendidikan di Jepang telah berhasil mencetak tenaga kerja dengan semangat, motivasi dan watak yang "pas" bagi pembangunan. Sebagai suatu masyarakat yang sepenuhnya mengakui peran pendidikan dalam pembangunan, para ahli di A.S. mulai menengok sistem pendidikan di Jepang, sekaligus mengevaluasi sistem pendidikan di,A.S. sendiri. Maka dibentuklah team Jepang dan A.S. yang bertugas untuk mengevaluasi  pertemuan antara Reagan dan Nakasone pada tahun 1983. Pada tanggal 4 Januari tahun 1987, secara serentak di kedua lbu Kota negara diumumkan hasil kerja team tersebut.

Team Amerika Serikat mengumumkan 128 halaman laporan yang oleh seorang pejabat di kantor  pendidikan di Washington disebut sebagai suatu potret sistem pendidikan yang canggih. Dalam  laporan tersebut, sebagaimana dikutip oleh Newsweek, 12 Januari 1987, dikemukakan bahwa murid-murid di Jepang diperkirakan mempunyai IQ yang tinggi, buta huruf sudah tidak dikenal lagi. Di samping itu berdasarkan tes yang telah distandardisir secara internasional ternyata murid-murid SMA di Jepang memiliki skore di bidang matematik dan sain lebih tinggi dari pada murid-murid SMA di A.S. Tambahan lagi, penelitian ini mempertebal keyakinan para pengamat bahwa pendidikan di Jepang telah memainkan peran yang penting dan sangat menentukan dalam pembangunan ekonomi negara pada dua puluh lima tahun terakhir ini.

A. Antara Menghafal dan Berfikir
 
Dimana letak kehebatan sistem pendidikan di Jepang ? Para ahli dan pengamat pendidikan boleh kecewa. Ternyata sistem pendidikan Jepang, kalau dilihat dengan kacamata teori pendidikan barat, bisa dikategorikan sebagai suatu sistem pendidikan tradisional. Pemerintah pusat memegang kontrol pendidikan, termasuk menentukan kurikulum yang berlaku secara nasional baik bagi sekolah negeri ataupun sekolah swasta. Pengajaran menekankan hafalan dan daya ingat untuk menguasai materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran diarahkan agar murid bisa lulus ujian akhir atau test masuk ke sekolah lebih tinggi, tidak mengembangkan daya kritis dan kemandirian murid. Semua murid diperlakukan sama, tidak ada treatment khusus untuk murid yang tertinggal.

Sekolah menekankan pada diri murid sikap hormat dan patuh kepada guru dan sekolah. Dengan singkat sistem pendidikan Jepang dapat dikatakan suatu sistem pendidikan yang "kaku, seragam dan tiada pilihan bagi anak didik". Di fihak lain, sebanyak 78 halaman laporan team Jepang antara lain menyatakan pujiannya atas fleksibilitas sistem pendidikan Amerika Serikat. Di samping itu, juga disebut dan bahwa meski anak didik di Jepang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada prestasi anak Amerika, namun hal itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak ringan. Antara lain murid-murid di Jepang tidak bisa "menikmati" enaknya sekolah.

Sebab dari waktu ke waktu anak didik di Jepang dikejar-kejar oleh pekerjaan rumah, ulangan dan ujian. Hasilnya murid-murid Amerika lebih independent dan innovative dalam berfikir, dan juga sudah barang tentu lebih bahagia dibandingkan dengan anak-anak didik di Jepang. Namun demikian, kuranglah tepat kalau secara tegas ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang menekankan disiplin dan hafalan serta daya ingat sebagaimana yang diterapkan di Jepang lebih hebat dari pada sistem pendidikan yang menekankan kebebasan, kemandirian dan kreatifitas individual sebagaimana yang diterapkan di Amerika Serikat.

Dibalik sistem pendidikan di Jepang yang kaku dan seragam tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang patut dicatat. Pertama, dengan menegakkan disiplin patuh terhadap guru dan sekolah menyebabkan anak didik di Jepang secara riil  menggunakan waktu sekolah  lebih  besar dari  pada anak-anak sekolah di Amerika Serikat. Kedua, sistem pendidikan di Jepang telah berhasil melibatkan orang tua anak didik dalam pendidikan anak-anaknya. lbu, khususnya senantiasa memperhatikan, memberikan pengawasan dan bantuan belajar kepada anak-anaknya. Tambahan lagi, lbu-ibu ini terus secara berkesinambungan membuat kontak dengan para guru. Ketiga, di luar sekolah berkembang kursus-kursus yang membantu anak didik untuk mempersiapkan ujian atau mendalami mata pelajaran yang dirasa kurang. Keempat, status guru dihargai dan gaji guru relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan pekerjaan guru mempunyai daya tarik.

Di fihak lain, pendidikan di Amerika tidaklah sebagaimana digambarkan orang, dimana anak didik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengembangkan kreatifitasnya. Penelitian nasional yang dilakukan oleh Goodlad yang kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul "A Place called school" ternyata menunjukkan sesuatu yang lain. Antara lain disebutkan ternyata hanya sekitar 5 % dari waktu jam pelajaran yang digunakan untuk berdiskusi. Sebagian besar waktu, sekitar 25 % untuk mendengarkan keterangan guru, sekitar 17 % waktu untuk mencatat dan sisa waktu yang lain untuk praktek, mempersiapkan pekerjaan dan test. Jadi dengan kata lain, sistem pendidikan di Amerika tidak sepenuhnya berjalan sebagaimana dicita-citakan para ahli.

B. Kiblat Pendidikan

Membaca laporan kedua team di atas, setidak-tidaknya memberikan nuansa baru. Yakni bahwa sistem pendidikan untuk suatu bangsa harus sesuai dengan falsafah dan budayanya sendiri. Mengambil alih suatu sistem atau gagasan dibidang pendidikan dari bangsa lain harus dikaji penerapannya dengan latar belakang budaya yang ada. Sebagai contoh, sekarang ini dunia pendidikan Indonesia sedang dilanda semangat untuk mengetrapkan sistem pengajaran yang menekankan "proses", dengan metode pengajaran yang disebut "Inquiry Teaching Method". Metode ini sangat ampuh untuk meningkatkan critical thinking anak didik. Tapi dalam praktek metode ini sulit untuk bisa diterapkan di kelas kelas di Indonesia. Mengapa ? Sebab metode ini menuntut adanya suasana yang bebas di kelas dan anak didik memiliki semangat untuk mencari kebenaran dan keberanian untuk mengutarakan gagasannya. Dan hal ini yang belum dimiliki oleh kelas-kelas dinegara kita. Oleh karena itu gagasan menerapkan metode inquiry perlu didahului mengembangkan kondisi-kondisi yang diperlukan. Misalnya dengan mulai menerapkan di tingkat sekolah dasar kelas satu. Atau, malahan sebaliknya, lebih baik memantapkan pelaksanaan pengajaran dengan metode yang sudah dikenal tetapi sebenarnya belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sebagaimana yang pernah penulis temui pada suatu pertemuan dengan guru-guru sekolah menengah yang menyatakan "Apakah tidak sebaiknya kita mencoba untuk mengembangkan bagaimana cara mengajarkan dengan metode ceramah yang efektif, dari pada menggunakan metode baru yang masih sangat asing ?" Nampaknya, kiblat pendidikan tidak hanya Amerika Serikat, kita perlu berkiblat juga ke Jepang dalam rangka menyusun dan mengembangkan sistem pendidikan yang cocok dengan falsafah dan budaya Indonesia.

Penulis tidak bermaksud membandingkan keduanya karena keterbatasan informasi yang di peroleh. Ide menulis didapat karena keterlibatan penulis dalam jajaran tenaga pendidik disebuah pesantren yang ada di tempat tinggalnya.

Sepengetahuan penulis, pondok pesantren sekarang ini dimasukkan dalam satuan pendidikan oleh Departemen Agama sama dengan tingkatan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Untuk tingkat dasar dalam pesantren dikenal tingkatan Ula (setara MI) dan Wustha (setara MTs). Sebagai konsekwuensi dari disamakannya status pondok pesantren dengan lembaga pendidikan formal agama maka dikeluarkanlah dana dari pemerintah ke lembaga / yayasan suwasta sebagai dana Bantuan Operasional Sekolah bagi pondok pesantren yang menerapkan pendidikan tingkat dasar. Pondok pesantren di daerah terpencil yang masih mengandalkan partisipasi masyarakat dalam operasionalnya tentunya mendapatkan setetes embun ditengah kehausan menerima dana BOS tersebut.

Mata pelajaran umum diterapkan. Pada awalnya, mata pelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan pondok pesantren tidak menerapkan mata pelajaran lain selain pelajaran agama yang meliputi akhlak, tauhid, al-quran, dll. Namun kini pondok pesantren yang menerima dana dari pemerintah wajib memberikan pendidikan umum seperti Matematika, IPA, B. Inggris, PPKn, dll. Para santri harus menempuh Ujian Nasional (UN) pada akhir pendidikan mereka agar mendapat ijazah nasional yang diakui oleh pemerintah sebagai bukti tamat pendidikan.

Pondok pesantren modern kebanyakan telah memberikan mata pelajaran umum seperti sekarang ini sebelum diwajibkan oleh Departemen Agama. Sebagai contoh, pelajaran Bahasa Inggris adalah pelajaran bergengsi bagi pondok pesantren modern sebagai daya tarik bagi para orang tua untuk mendaftarkan anak mereka. Lulusan Ponpes terkenal jago dalam dua bahasa yaitu Arabic dan English. Jam mata pelajaran umum pun ditambah dengan tidak mengurangi jam mata pelajaran agama. Jam belajar santri bertambah, sehingga jam belajar para santri lebih banyak daripada siswa. Kurikulum diterapkan dengan adanya Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pendidikan (RPP) yang tersusun dan terencana. Para santri mendapat materi dan jadwal belajar yang tepat waktu sesuai dengan kalender pendidikan. Perubahan itu membuat Ponpes mengalami kemajuan yang siknifikan dengan menghasilkan para santri yang bermutu. Kita menyebutnya dengan Pesantren Modern.

Lain halnya dilingkungan Ponpes dimana penulis saat ini terdaftar sebagai tenaga pendidik mata pelajaran umum. Yayasan mencantumkan nama penulis sebagai tenaga pendidik seperti tenaga guru lainnya sebagai syarat menerima bantuan dari pemerintah. Pendidikan tidak berubah dengan mengedepankan pendidikan agama namun tidak menerima mata pelajaran lainnya mendapat porsi yang cukup dalam”kalender pendidikan” mereka. Mata pelajaran umum ibarat “ilmu” yang kurang bermanfaat, maaf kalo bisa dibilang banyak mudhorotnya daripada manfaatnya. Seringkali santri meninggalkan kelas apabila guru mata pelajaran umum masuk. Dan itu tidak mendapatkan tanggapan apapun dari dewan ustad lainnya saat hal tersebut dibawa dalam rapat. Guru umum makan insentif buta dari pemerintah karena tekanan dan tidak diberinya jadwal mengajar didalam kelas. Dalam satu minggu guru hanya mengajar 3jam.

PENDIDIKAN TRADISIONAL DAN MODERN
Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Menurut konsep ini rasio ingatanlah yang memegang peranan penting dalam proses belajar di sekolah (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas 'satu sistem terbaik'. Ciri utama pendidikan tradisional termasuk : (1) anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu, (2) mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur, (3) anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu, (4) mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran, (5) prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada, (6) guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan, (7) sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks, (8) promosi tergantung pada penilaian guru, (9) kurikulum berpusat pada subjek pendidik, (10) bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 164-165).

Lebih lanjut menurut Vernon Smith, pendidikan tradisional didasarkan pada beberapa asumsi yang umumnya diterima orang meski tidak disertai bukti keandalan atau kesahihan. Umpamanya: 1). ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak; 2). tempat terbaik bagi sebagian besar

anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah sekolah formal, dan 3). cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka (Vernon Smith, dalam, Paulo Freire, dkk, 1999 : 165).

Ciri yang dikemukan Vernon Smith ini juga dialami oleh pendidikan Islam di Indonesia sampai dekade ini. Misalnya : Sebagian Pesantren, Madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatika dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini.

Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.
Postingan Terkait Lainnya :
Tugas
Penggunaan Media dalam Pembelajaran Fiqih
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Contoh Daftar Isi Proposal Skripsi
Contoh Penulisan daftar pustaka
contoh Kata Pengantar Skripsi /proposal
Asas - Asas Hukum Islam
Pengertian (Definisi) Media
Pendapat Para ahli tentang Maisir (judi)
Contoh Kata Pengantar Makalah
Kisah Tentang Imam Hambali
Biografi Imam Abu Hanifah
Pengertian Menopause
Hari Valentine (Penelitian) - Pengertian Valentine day
Format Laporan Bulanan MA Contoh
Contoh RAPBM - Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Madrasah
Undian Berhadiah - makalah
Makalah (Pengertian) tentang Syirik dan Riya'
PERMINTAAN DAN PENAWARAN
Pengembangan Islam pada masa Khulafaurrasyidin
Pendidikan Islam di Indonesia
Mudharabah
Oservasi pengembangan kurikulum di MA AL FATA
sumber : http://www.canboyz.co.cc/2010/02/perbandingan-pendidikan-tradisional.html

Minggu, 22 Agustus 2010

Bantuan Pendidikan - Wakaf Tunai / Donasi


Wakaf Tunai saat ini sangat di minati olah masyarakat, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. ( QS : Al Baqoroh : 261 )

[166] Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Yayasan Insan Taqii Al Faqih ( YITA ), adalah yayasan yang dibangun dalam rangka mewujudkan generasi unggul dari sisi perpaduan keulamaan yang mampu dibidang keagamaan dan tehnologi. Artinya Yayasan bercita-cita melahirkan bibit-bibit ulama seperti para sahabat, tabiin, para imam sampai abad hidup  Ibnu Sina, al Birruni, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah dan ulama lain yang telah melahirkan banyak ilmu-ilmu sains.
                Cita-cita di atas akan diwujudkan melalui pendidikan  dari tinggkat SLTA dan Perguruan  dengan dimulai membuka SMK Islam diberbagai keahlian dengan memadukan keilmuan Islam yang telah ada dengan perkembangan tehnologi modern. dengan sistem semi boarding school untuk menampung peserta didik yang jauh (semi pesantren ).

                 Untuk mewujudkan cita-cita ini, yayasan ingin berbagi Wakaf  Tunai/ Donasi  dengan bapak/ibu/ saudara muslim dimanapun berada dalam pengadaan fasilitas gedung untuk menunjang  optimalnya pendidikan dengan nominal @ Rp. 3.000.000,- / permeter persegi.
Adapun pemberian sumbangan  bisa langsung / transfer / diambil petugas yayasan, atau transfer langsung melalui  Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih.

    Atas segala perhatian bapak/ibu/ saudara sekalian kami ucapkan jazakumullah khoeron katsira.



                                                                                                  Ttd



                                                                               Yayasan Insan Taqii Al Faqih

Kamis, 19 Agustus 2010

Bantuan pendidikan_Investasi Di Bulan Ramadhan

Tawaran Donasi/kerjasama

Assalamu'alaikum wr.wb


  Saudara-saudaraku dimanapun berada, semoga Ramadhan membawa kita pada keberkahan dan kebahagiaan, amiin.
    Yayasan Insan Taqii Al Faqih ( YITA ), adalah yayasan yang dibangun dalam rangka mewujudkan generasi unggul dari sisi perpaduan keulamaan yang mampu dibidang keagamaan dan tehnologi. Artinya Yayasan bercita-cita melahirkan bibit-bibit ulama seperti para sahabat, tabiin, para imam sampai abad hidup  Ibnu Sina, al Birruni, Ibnu Khaldun, Ibnu Batutah dan ulama lain yang telah melahirkan banyak ilmu-ilmu sains.
     Cita-cita di atas akan diwuudkan melalui pendidikan mulai dari tinggkat SLTA dengan membuka SMK Islam diberbagai keahlian dengan memadukan keilmuan Islam yang telah ada dengan perkembangan tehnologi modern. dengan sistem semi boarding school untuk menampung peserta didik yang jauh (semi pesantren ).

     Untuk mewujudkan cita-cita ini, yayasan ingin berbagi donasi atau kerjasama dengan bapak/ibu/ saudara muslim dimanapun berada dalam pengadaan fasilitas belajar yang menunjang.
Adapun pemberian donasi bisa langsung / transfer / diambil petugas yayasan, atau transfer langsung melalui  Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih.

    Atas segala perhatian bapak/ibu/ saudara sekalian kami ucapkan jazakumullah khoeron katsira.



                                                                              Ttd




                                                                               Yayasan Insan Taqii Al Faqih



    

  

Rabu, 18 Agustus 2010

Investasi Di Bulan Ramadhan


Bapak/ibu Dermawan yang dimulyakan Allah. Alhamdulillah, bulan yang kita nanti-nanti  telah  datang yaitu bulan yang penuh rahmat dan ampunan serta  bulan jaminan Surga  bagi hambanya yang bertaqwa. Semoga di Bulan Ramadhan ini kita mendapatkan gelar oleh Allah yaitu Taqwa, Amin.
Bapak ibu yang di mulyakan Allah Mari kita mengingat kembali wasiat Rosulullah dalam menyambut bulan Ramadhan , sungguh telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh Rahmat, Berkah dan Ampunan, bulan paling utama di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam yang paling utama, bulan ketika engkau diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang dimuliakanNya.
Di bulan ini nafasmu adalah tasbih, tidurmu adalah ibadah, Amalmu diterima dan do’a-do’amu diijabah, karenanya mohonlah kepada Allah Tuhanmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci, agar ia membimbingmu untuk berpuasa dan membaca kitabNya, celakalah orang-orang yang tidak mendapat ampunan Allah dibulan yang Agung ini. Kenanglah dalam lapar dan hausmu ketika berpuasa kelaparan dan kehausan di hari Kiamat kelak. Bersedekahlah kepada para Fuqara dan Masakin. Muliakanlah orang-orang yang lebih tua, sayangilah yang lebih muda, sambungkan tali persaudaraan, pelihara lidahmu, tahan pandangan dan pendengaranmu dari hal-hal yang tidak halal kau pandang dan kau dengar. Kasihanilah anak-anak Yatim niscaya anak-anak yatimmu akan dikasihi orang.
Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosamu, angkatlah tanganmu, munajatkan do’a saat Sholat-sholatmu karena itulah saat-saat yang paling utama, ketika Allah memandang hamba-hambanya penuh kasih sayang. Ia menjawab mereka ketika mereka bermunajat kepadanya, menyambut mereka ketika mereka menyeruNya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdo’a kepadaNya.
Wahai manusia, sesungguhnya dirimu tergadai dengan amal-amalmu, sebab itu bebaskanlah dirimu dengan istighfar, punggungmu berat karena dosamu maka ringankanlah ia dengan memperpanjang sujudmu, ketahuilah Allah bersumpah dengan keperkasaanNya untuk tidak menyiksa orang-orang yang sholat dan sujud dan tidak mengancam mereka dengan api neraka ketika manusia berdiri di hadapan Robb al ‘Alamin.
Wahai manusia, barangsiapa diantara kamu yang memberi makan berbuka untuk seorang mukmin yang berpuasa di bulan ini niscaya baginya pahala memerdekakan hamba sahaya dan ampunan atas dosa-dosa yang telah silam. Peliharalah dirimu dari api neraka meski hanya dengan sebutir korma dan seteguk air karena Allah SWT akan menganugerahkan pahala sebesar itu dengan amalan seringan itu jika memang seseorang tidak mampu berbuat yang lebih banyak dari dari itu.
Maka bersama ini Rumah Dhuafa mengajak Bapak/ibu/Saudara untuk mensukseskan program Ramadhan sekaligus menyempurnakan Ramadhan ini dengan:
  1. MELAKSANAKAN SHOLAT TARAWIH
  2. BERINFAK DAN SHADAQAH
  3. MEMBAYAR ZAKAT
  4. MEMBAYAR FIDYAH
  5. I’TIKAF 10 MALAM  TERAHIR
  6. MEMBERI TA’JIL/BERBUKA PUASA 45 ORANG(Anak yatim&shoimin)
  7. IKUT PROGRAM WAKAF 100 ALQURAN  TERJAMAH
  8. MEMBERI PAKET LEBARAN UNTUK ANAK YATIM ( NO 2,3,4,6,7, 8 disalurkan lewat Rumah Du'afa Indonesia )
  9. WAKAF TUNAI TANAH DAN BANGUNAN @ Rp. 2.500.000,- ( disalurkan ke YITA )

Semoga Amal sholih ini dapat membawa keberkahan kepada Bapak/Ibu/Saudara,  serta kita dapat di pertemukan di bulan ramadhan yang akan datang  selanjutnya kami mengucapkan Jazakallahu khoiron katsiron.



Jakarta, 11 Agustus 2010
* Bank Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih,
* RUMAH DHUAFA INDONESIA
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Rumah Dhuafa : 021-8856530, 92122424 SMS  081383650665
Salurkan Zakat Infaq Sedekah anda ke:
Bank BCA : 5770524387 Cabang Galaxi
Bank BSM : 0697055615 Cabang Kalimalang




Bantuan Pendidikan_ Tawaran Donasi YITA

Pusat pendidikan_ SMK semi pesantren modern

SMK ISLAM

Dewasa kini banyak lembaga - lembaga pendidikan islam yang menawarkan berbagai macam pola pendidikan yang dikemas sedemikian rupa. dengan berbasis bahasa, teknologi dan juga manajemen kehidupan yang ulet dan siap bekerja keras terhadap semua peserta didiknya. semua itu memanglah sudah baik dengan banyak terjadinya perubahan - perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. peserta didik (santri) dituntut agar mampu menguasai 2 kajian keilmuan:
  1. Keilmuan Duniawi (Technoligi, Sains Dll.)
  2. Keilmuan Ukhrowi (Agama/Religis)
belakangan ini banyak lembaga - lembaga yang berupaya menciptakan suatu inovasi baru didunia pendidikan dengan menyetukan antara sekolah dan pesantren yang sering kita sebut "Boarding School". Boarding School inilah yang merupakan salah satu jalan terbaik untuk menciptakan generasi muda yang mempunyai kemampuan intelektual 2 kajian keilmuan (Duniawi dan Ukhrowi).
Selain mempunyai kajian keilmuan tersebut, semua itu harus disertai dan dibarengi dengan Moralitas, Mentalitas dan Akuntabilitas untuk menciptakan santri yang madani.
YAYASAN INSAN TAQII AL FAQIH ingin menyelenggarakan pendidikan yang membekali nilai-nilai Islam dan terwujud dalam aplikasi kehidupan, sehingga ia tampil menjadi manusia yang utuh. pada intinya bagaimana mengantarkan mereka sukses dunia dan akherat.

untuk merealisasikan ini yayasan minta doa' restu dan dukungan material demi terwujudnya cita-cita yang diharapkan. salurkan donasi anda untuk pengembangan pendidikan melalui rek Bank Muamalat 9235569906 a.n Yayasan Insan Taqii al faqih, atas partisipasinya kami uacapkan jazakumullah khoeron katsira

Mp3 players_ Sebagai sarana pendidikan


mp3 Player. mp4 Player. RM Player. Flash Video. Recorder. Digital Album. USB. PDF Reader. e-Book. HTML Reader. Radio. telah banyak dijadikan sebagai bagian yang penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan.

Jumat, 06 Agustus 2010

Bantuan pendidikan_ gagasan pendidikan Islam

Oleh: Muhammad Fahri
"Madju atau mundurnja salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada peladjaran dan pendidikan jang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa jang terbelakang menjadi madju, melainkan sesudahnja mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka."
A. PENDAHULUAN
Indonesia memiliki khazanah tokoh pembaharu dunia pendidikan Islam yang begitu banyak, para tokoh tersebut sangat intens dan menaruh perhatian besar tehadap perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan Islam. Mereka banyak melahirkan gerakan-gerakan yang baru, pemikiran-pemikiran yang segar bahkan gagasan-gagasan yang cemerlang yang sesuai dengan tujuan dan arahan serta visi misi pendidikan Islam. Peran tokoh-tokoh tersebut banyak memberikan angin segar, pencerahan ide-ide yang banyak dikembangkan oleh para praktisi pendidikan pada masa kini.
Nama Mohammad Natsir begitu penting dalam wacana Pendidikan Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai pahlawan nasional yang kiprahnya dalam memajukan bangsa ini, khususnya umat Islam di waktu lampau telah diakui oleh berbagai kalangan. Bahkan, pengaruh dari usaha beliau masih dirasakan hingga sekarang. Pak Natsir (sapaan akrab beliau) tidak hanya dikenal sebagai sosok negarawan, pemikir modernis, mujahid dakwah. Tapi, beliau dikenal juga sebagai seorang aktivis pendidik bangsa yang telah menorehkan episode sejarahnya di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga masa orde baru. Pemikirannya banyak digali dan dijadikan sebagai titik tolak kebangkitan umat Islam dalam berbagai macam bidang.
Mohammad Natsir adalah tokoh yang menggagas pembaharuan pendidikan Islam yang berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan berbasis al-Qur’an dan al-Sunnah, maka pendidikan Islam harus bersifat integral, harmonis, dan universal, mengembangkan segenap potensi manusia (fitrah) agar menjadi manusia yang bebas, mandiri sehingga mampu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Selanjutnya, konsep pendidikan integral, harmonis dan universal tersebut oleh Natsir dihubungkan dengan misi ajaran Islam sebagai agama yang bersifat universal.
Menurut Natsir, bahwa Islam bukan sekedar agama dalam pengertian yang sempit yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan saja, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia. Dari pertimbangan yang telah diutarakan diatas, terlihat bahwa studi mengenai Mohammad Natsir dan pemikirannya tentang pendidikan Islam merupakan bidang yang amat menarik dan penting untuk diteliti serta cukup beralasan, maka penulis berusaha menganalisis pemikiran Mohammad Natsir, serta membuat format dari gagasan tersebut yang dikemas dalam suatu rumusan: Bagaimana konsep Pendidikan Islam menurut Muhammad Natsir. Untuk menjawab permasalahan ini maka akan dibahas pemikiran Muhammad Natsir mengenai: (a) tujuan pendidikan Islam, (b) kurikulum pendidikan Islam, (c) metode pendidikan Islam.
B. BIOGRAFI MUHAMMAD NATSIR
Muhammad Natsir lahir di Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada hari Jum’at 17 Jumadil Akhir 1326 Hijriah bertepatan dengan 17 Juli 1908 Masehi. Natsir adalah putra dari Khadijah dan Mohammad Idris Sutan Saripado. Ia memiliki 3 orang saudara kandung, masing-masing bernama Yukinan, Rubiah, Yohanusun. Tanah kelahiran Natsir sangat terbuka dengan model pendidikan Belanda, sehingga kesempatan ini banyak dipergunakan oleh penduduk secara antusias, sehingga sekolah pada waktu itu tidak dapat menampung animo masyakat untuk mengenyam pendidikan.
Riwayat pendidikan Muhammad Natsir dimulai di sekolah Rakyat (SR) Maninjau Sumatra Barat hingga kelas dua. Ketika ayahnya dipindah-tugaskan ke Bakeru, Natsir mendapat tawaran dari mamaknya, Ibrahim untuk pindah ke Padang agar dapat menjadi siswa di Holland Inlandse School (HIS) Padang. Namun His Padang menolaknya dikarenakan latar belakang Muhammad Natsir yang berasal dari anak pegawai rendahan. Akan tetapi Natsir memasuki HIS Adabiyah (swasta) yang diperuntukkan untuk anak-anak negeri selama lima bulan.
Setelah ayahnya dipindah-tugaskan dari Bekeru ke Alahan Panjang, Natsir dijemput untuk sekolah di HIS Pemerintah yang berada di Solok. Namun karena Solok cukup jauh dari Alahan Panjang, maka Natsir terpaksa dititipkan di rumah saudagar yang bernama Haji Musa.
Setelah belajar di HIS pada pagi hari, Natsir juga belajar di Sekolah Diniyah pada waktu sore dan belajar mengaji pada malam hari. Pada waktu itulah Natsir mulai belajar bahasa Arab. Setelah ia duduk di kelas tiga sekolah diniyah, dia diminta untuk mengajar di kelas satu, mengingat pada saat itu masih kekurangan guru. Atas pelaksanaan tugasnya itu, Natsir memperoleh imbalan sebesar sepuluh ribu rupiah sebulan.
Namun saat itu datang pula kakaknya yang mengajak pindah ke Padang. Di HIS Padang itulah Natsir masuk kelas lima dan bersekolah di situ selama tiga tahun hingga selesai. Setelah lulus dari HIS, Natsir mengajukan permohonan untuk mendapat beasiswa dari MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs) dan ternyata lamarannjya itu diterima. Di MULO Padang inilah Natsir mulai aktif dalam organisasi. Mula-mula ia masuk dalam Jong Sumatranen Bond (Serikat Pemuda Sumatra) yang diketuai oleh Sanusi Pane. Kemudian ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond (Serikat Pemuda Islam) dan disitupun Sanusi Pane aktif sebagi ketua dan menjadi anggota Pandu Nationale Islamietische Pavinderij (Natipij), sejenis Pramuka sekarang. Menurut Natsir organisasi merupakan pelengkap selain yang didapatkan di sekolah, dan memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan bangsa. Dari kegiatan berbagai organisasi inilah mulai tumbuh bibit sebagai pemimpin bangsa pada Muhammad Natsir.
Aktivitas Natsir semakin berkembang ketika ia menjadi siswa di Algememe Midelbare School (AMS) di Bandung. Di kota inilah ia mempelajari agama secara mendalam serta berkecimpung dalam bidang politik, dakwah, dan pendidikan. Di tempat inipula Natsir berjumpa dengan A. Hasan (1887-1958), seorang tokoh pemikir radikal dan pendiri Persatuan Islam (Persis). Natsir mengaku bahwa A. Hassan banyak mempengaruhi alam pikirannya. Hal ini karena Muhammad Natsir tertarik pada kesederhanaan A. Hassan, juga kerapihan kerja dan kealimannya.
Minat dan perhatian Natsir terhadap persoalan keIslaman dan Kemasyarakatan menyebabkan Natsir menolak tiga kesempatan yang ditawarkan kepadanya, yaitu melanjutkan ke fakultas ekonomi atau fakultas hukum di Rotterdam, menjadi pegawai negeri dengan gaji besar sebagai hadiah atas keberhasilannya menyelesaikan studi di AMS dengan nilai tinggi. Minat tersebut direalisasikannya dengan aktif dalam bidang pendidikan secara luas yang dirintisnya dengan melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan studi Islam yang dilaksanakan oleh Persatuan Islam (Persis) di Bandung yang dimulai sejak tahun 1927-1932 dibawah pimpinan A. Hassan.
Pada bulan Maret 1932 Persis menyelenggarakan pertemuan kaum muslimin di Bandung dengan mengangkat persoalan pendidikan bagi generasi muda Islam sebagai tema sentralnya. Pertemuan itu melahirkan suatu perkumpulan yang diberi nama Pendidikan Islam (Pendis) dengan program utamanya meningkatkan mutu pendidikan melalui pembaruan kurikulum, menanamkan ruh Islam pada setiap mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswa
Serta mengelola sistem pendidikan yang dapat melahirkan lulusan yang memiliki kepribadian yang mandiri dan terampil. Untuk mencapai tujuan tersebut diatas antara lain dilakukan melalui pendirian sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak, HIS, MULO, pertukangan, Perdagangan, Kursus-kursus, ceramah, dan lain sebagainya.
Jejak M. Natsir dalam bidang pendidikan sudah ada sebelum negeri ini merdeka. Ketika Indonesia berada di bawah jajahan Jepang (1942-1945) seluruh partai Islam dibubarkan kecuali empat organisasi islam yang tergabung dalam MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yaitu; NU, Muhammadiyah, PUI yang berpusat di Majalengka, dan PUII yang berpusat di Sukabumi. Empat generasi tersebut kemudian tergabung dalam satu wadah, yaitu MASJOEMI, penjelmaan baru MIAI. Pada 1945 Masjoemi mengadakan rapat yang menghasilkan dua putusan penting, pertama, membentuk barisan mujahidin dengan nama Hizbullah untuk berjuang melawan sekutu. Kedua, mendirikan perguruan tinggi Islam dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI), STI kemudian hari menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Maksud berdirinya STI adalah untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat di kemudian hari.
Dewan Ketua Kurator STI dijabat Mohammad Hatta dan Natsir sebagai sekretarisnya. Rektor Magnificus oleh KH. A. Kahar Muzakkir dan Natsir pula sebagai sekretarisnya, dan Prawoto Mangkusasmito sebagai wakil sekretaris. Di samping menjabat sebagai sebagai sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta, Pak Natsir, di kala itu, menjabat sebagai kepala biro pendidikan Kodya Bandung. Pada tahun 1932-1942, beliau memimpin Lembaga Pendidikan Islam (PENDIS) yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (UNISBA), yang saat menjadi universitas terpandang di kota Bandung.
Setelah matang membangun Pendis, Natsir mengarahkan andilnya untuk membangun perguruan Islam lainnya. Beliau melakukan adanya koordinasi dan penyelarasan program pendidikan perguruan Islam bakal melahirkan institusi pendidikan Islam yang memiliki keseragaman dasar dan cita-cita.
Guna merealisasikan tujuannya ini, beliau menyeru perguruan dan institusi pendidikan Islam di Indonesia untuk membentuk wadah bersama yang diberi nama Perikatan Perguruan-Perguruan Muslim (PERMUSI). Beliau juga tercatat sebagai penggagas di balik berdirinya Badan Kerja Sama Perguruan tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) yang kini memiliki anggota lebih dari 500 PTIS se Indonesia. Dari gagasan Muhammad Natsir lahirlah kampus-kampus Islam yang memiliki nama besar, seperti Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Universitas Islam Bandung (UNISBA) di Bandung, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makasar, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) di Semarang, Universitas Islam Riau (UIR) di Riau, Universitas Al-Azhar Indonesia, dan LPDI Jakarta yang kini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir.
Muhammad Natsir berpulang ke rahmatullah pad tanggal 6 Februari 1993 Masehi bertepatan dengan 14 Sya’ban 1413 Hijriah di rumah sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta dalam usia 85 tahun dengan meninggalkan enam orang anak dari pernikahannya dengan Nurhanar, yaitu; Siti Muchlisoh (20 Maret 1936), Abu Hanifah ( 29 April 1937), Asma Farida (17 Mei 1941). Hasnah Faizah (5 Mei 1941), Aisyatul Asrah (20 Mei 1942), dan Ahmad Fauzi (26 April 1944). Berbagai ungkapan belasungkawa muncul baik dari kawan seperjuangan maupn lawan politiknya.
C. GAGASAN DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN
Selain sejarah atau biografi Muhammad Natsir, berikut dengan riwayat pendidikan serta kariernya dalam bidang politik dan keorganisasian, penulis akan membahas gagasan dan pemikiran muhammad Natsir ditinjau dari tiga sisi, yaitu; Tujuan Pendidikan Islam, Kurikulum Pendidikan Islam serta Metode Pendidikan Islam.
I. TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai oleh Mohammad Natsir adalah membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, maju dan mandiri sehingga memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Selain itu bahwa tujuan manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, tidak akan diperoleh dengan sempurna kecuali dengan keduanya. Pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan kehidupan manusia, tujuan ini tercermin dalam al Qur’an Surat Al-An’am: 162.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (QS. Al-An’am: 162)
Bagi Muhammad Natsir, fungsi tujuan pendidikan adalah memperhambakan diri kepada Allah SWT semata yang bisa mendatangkan kebahagiaan bagi penyembahnya. Hal ini juga yang disimpulkan oleh Prof. DR. H. Abuddin Nata, M.A, tentang tujuan pendidikan Islam menurut Muhammad Natsir, bahwa pendidikan Islam ingin menjadikan manusia yang memperhambakan segenap rohani dan jasmaninya kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan konsep Islam terhadap manusia itu sendiri. Bahwa mereka diciptakan oleh Allah untuk menghambakan diri hanya kepada Allah semata. Oleh karenanya segala usaha dan upaya manusia harus mengarah ke sana, di antaranya adalah pendidikan.
Firman Allah Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)
Selanjutnya Natsir mengatakan bahwa apabila manusia telah menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah, berarti is telah berada dalam dimensi kehidupan yang menyejahterakan di dunia dan membahagiakan diakhirat. Menurut Natsir dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam, hendaknya mempertimbangkan posisi manusia sebagai ciptaan Allah yang terbaik dan sebagai khalifah di muka bumi.Perkataan menyembah-Ku sebagaimana terdapat dalam potongan surat az Dzariyat tersebut diatas menurut Natsir memiliki arti yang sangat dalam dan luas lebih luas dan dalam dari perkataan-perkataan itu yang biasa kita dengar dan gunakan setiap hari. ”Menyembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah ilahi yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan diakhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan yang menghalangi tercapainya kemenangan di dunia dan di akhirat itu.
Selain itu, Muhammad Natsir sangat konsen terhadap Pendidikan anak dalam Islam, sesuai yang dipahami Natsir, pada dasarnya adalah menjadi tanggung jawab ibu-bapak (orang tua). Hukumnya fadlu ‘ain. Karena anak, dalam pandangan Islam, adalah amanat bagi keduanya yang harus dididik dan dipimpin. Keduanya bertanggungjawab atas anak-anak mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S.At-Tahrim: 6)
Menurut Muhammad Natsir, maksud ayat ini adalah: “harus kita berikan kepada anak dan istri kita didikan yang memeliharanya dari dari kesesatan dan memberi keselamatan kepadanya di dunia dan akhirat. Sabda Rasulullah SAW: “Tiada seorang bayipun yang lahir melainkan dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nashrani.” (HR. Bukhari)
Mengurus pendidikan anak-anak orang Islam bukan hanya menjadi fardlu ‘ain bagi orang tuanya, tapi juga menjadi fadlu kifayah bagi tiap-tiap anggota dalam sebuah masyarakat. Beliau dasarkan pada firman Allah QS. Ali Imran: 104
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.
Kaum muslimin wajib mengadakan satu kelompok yang mengadakan pendidikan untuk anak-anak orang Islam, supaya pendidikan mereka tidak di’garap’ oleh orang-orang yang tidak sehaluan, tidak sedasar, tidak seiman, dan tidak seagama. hal ini sesuai dengan perintah Allah dan pesan Rasulullah SAW.
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (QS al Baqarah: 109)
II. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan Islam tersebut menurut pandangan Mohammad Natsir semestinya kurikulum pendidikan dapat disusun dan dikembangkan secara integral dengan mempertimbangkan kebutuhan umum dan kebutuhan khusus sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik, sehingga akan tertanam sikap kemandirian bagi setiap peserta didik dalam menyikapi realitas kehidupannya. Beliau sangat tegas menolak teori dikotomi ilmu yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Makanya beliau menampik pemisahan pendidikan agama dan pendidikan umum. Dikotomi ilmu agama dan ilmu umum adalah teori yang lahir dari rahim sekularisme. Hal ini tentunya sesuai dengan pandangan al-Qur’an tentang manusia. Bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki unsur jasmani dan rohani, fisik dan jiwa yang memungkinkan ia diberi pendidikan. Selanjutnya manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah muka bumi sebagai pengamalan ibadah kepada Allah dalam arti seluas-luasnya. Ia tidak akan bisa melaksakan tugas ini sebaik-baiknya kecuali dengan penguasaan yang baik terhadap kedua ilmu ini.
Muhammad Natsir juga mengenalkan konsep tauhid sebagai dasar Pendidikan. Tauhid harus menjadi dasar berpijak setiap muslim dalam melakukan segala kegiatannya, diantaranya pendidikan. Muhammad Natsir juga menggariskan bahwa tauhid haruslah dijadikan dasar dalam kehidupan manusia, diantaranya dalam masalah pendidikan. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang diasaskan pada tauhid. Beliau berpandangan bahwa pendidikan tauhid harus diberikan kepada anak sedini mungkin, selagi masih muda dan mudah dibentuk, sebelum didahului oleh materi dan ideologi dan pemahaman lain. Supaya ia memiliki tali Allah untuk bergantung. Hasil dari pendidikan model ini akan melahirkan generasi-generasi yang memiliki hubungan kuat dengan penciptanya serta mengutamakan mu’amalah sesama makhluk. Dan inilah dua syarat wajib untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup, lahir dan batin. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Ali Imran:112
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu……… (QS. Ali Imran: 112)
Menurut Natsir, meninggalkan dasar tauhid dalam pendidikan anak merupakan kelalaian yang amat besar. Bahayanya, sama besarnya, dengan penghianatan terhadap anak-anak didik. Walaupun sudah dicukupkan makan dan minumnya, pakaian dan perhiasannya, serta dilengkapkan pula ilmu pengetahuan untuk bekal hidupnya. Semua ini, menurutnya, tidak ada artinya apabila meninggalkan dasar ketuhanan (ketauhidan) dalam pendidikan mereka. Natsir memandang bahwa lahirnya para intelektual muslim yang menentang Islam dan kelompok yang western-minded adalah akibat dari pendidikan yang tidak berbasis agama yang benar. Dari sinilah beliau melihat sisi pentingnya tauhid sebagai dasar dari pendidikan Islam.
III. METODE PENDIDIKAN ISLAM
Muhammad Natsir telah menempatkan dirinya untuk berada di jalan da’wah. Sehingga apapun yang dijalankan selalu disebatikan dengan misi da’wah. Kecerdasan yang ada pada pada diri beliau dan kuatnya keyakinan terhadap ajaran islam menjadikannya seorang penda’wah yang ulung. Dan kelebihan yang dimilikinya adalah mampu berda’wah dalam berbagai aspek, seperti politik, pendidikan, keilmuan, keperibadian dan tingkah laku. Selain itu objek da’wah yang disentuh tidak hanya untuk kalangan atau golongan tertentu, namun yang menjadi target da’wah adalah mencakup seluruh masyarakat. Baik golongan atas maupun golongan bawah, bahkan kiprahnya dalam da’wah mulai dari daerah, nasional hingga internasional. Dalam berda’wah di arena politik Pak Natsir terkenal dengan dua kalimat “berda’wah dijalur politik berpolitik dijalur da’wah”. Bagi Pak Natsir berpolitik adalah suatu medan da’wah, sehingga dalam prakteknya harus dilakukan dengan penuh kejujuran, keikhlasan dan sopan santun. Dalam berpolitik sangat tidak pantas kalau hanya menurutkan hawa nafsu dan menepikan hukum Allah. Berpolitik bukan untuk mencari kekuasaan tetapi yang sangat utama adalah mengutamakan kemaslahatan umat. Begitu juga dalam dunia pendidikan, menurutnya pendidikan merupakan sarana untuk berda’wah. Dengan menggunakan kurikulum pendidikan yang integral maka proses transformasi ilmu pada peserta didik dapat ditempuh melalui tiga tingkatan yaitu: metode hikmah, mauidzah dan mujadalah. Ketiga metode tersebut bersifat landasan normatif dan diterapkan dalam tataran praktis yang dapat dikembangkan dalam berbagai model sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi peserta didik. Dalam pandangan Natsir, dari beberapa metode yang diungkapkan di atas, terlihat metode hikmah lebih berorientasi pada kecerdasan dan keunggulan. Metode ini memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi kemampuan memilih saat yang tepat untuk melangkah, mencari kontak dalam alam pemikiran guna dijadikan titik bertolak, kemampuan memilih kata dan cara yang tepat, sesuai dengan pokok persoalan, sepadan dengan suasana serta keadaan orang yang dihadapi. Natsir menambahkan bahwa implikasi metode hikmah ini akan menjelma dalam sikap dan tindakan.
Metode-metode tersebut diatas sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat an Nahl ayat125:
äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl:125)
Hikmah menurut pandangan Natsir memiliki beberapa kategori. Pertama, hikmah dalam arti ‘mengenal golongan’, yaitu bagaimana seorang da’i dalam hal ini pendidik menyikapi corak manusia (peserta didik) yang akan dijumpainya. Masing-masing golongan manusia harus dihadapi oleh yang sepadan dengan tingkat kecerdasan, sepadan dengan alam fikiran dan perasaan serta tabiat masing-masing. Ayat di atas mengandung petunjuk pokok bagi Rasul dan para muballighin tentang bagaimana cara menyampaikan da’wah kepada manusia yang berbagai jenis itu. M. Natsir menukil pendapat Syaikh Muhammad Abduh yang membagi hikmah dalam tiga golongan: a) ada golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran, dan dapat berfikir secara kritis, cepat dapat menangkap arti persoalan. Mereka ini harus dipanggil dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dengan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuasaan akal mereka.b) Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzah al-hasanah, dengan anjuran dan didikan, yang baik-baik, dengan ajaran-ajaran yang mudah difaham. c) Ada golongan yang tingkat kecerdasannya di antara kedua golongan tersebut, belum dapat dapat dicapai dengan hikmah, akan tetapi tidak sesuai pula , bila dilayani seperti golongan awam; mereka suka membahas sesuatu, tetapi tidak hanya dalam batas yang tertentu, tidak sanggup mendalam benar. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah bi al-lati hiya ahsân, yakni dengan bertukar fikiran, guna mendorong supaya berfikir secara sehat, dan satu dan lainnya dengan cara yang lebih baik.[19]
Adapun mau’idzah al-hasanah dan mujadalah bi al-lati hiya ahsân, kedua hal ini menurut Natsir lebih banyak mengenai bentuk da’wah, yang juga dapat dipakai dalam menghadapi semua golongan menurut keadaan, ruang dan waktu. Bentuk mujadalah, bertukar fikiran berupa debat, bisa dan tepat juga dipakai dalam menghadapi golongan cerdik pandai; bertukar fikiran berupa soal jawab yang mudah dapat dipakai juga dalam menghadapi golongan awam. Semua golongan ini memiliki unsur akal dan unsur rasa. Yang berbeda-beda ialah saat, keadaan dan suasana.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian gagasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Muhammad Natsir dalah tokoh nasional dan internasiaonal yang memiliki integritas pribadi dan komitmen yang kuat untuk memajukan bangsa dan negara dengan menjadikan Islam sebagai landasan motivasi perjuangannya. Kedua, Muhammad Natsir selain seorang negarawan yang handal, ia juga termasuk pemikir, arsitek pendidikan Islam yang serius. Ia menyadari dengan sungguhnya bahwa pendidikan merupakan media yang paling strategis untuk memberdayakan anak bangsa dengan memperhatikan pendidikan mereka sedini mungkin, khususnya umat Islam agar ia mampu menolong dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mampu memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa dan negara. Ketiga, sebagai pemikir dan arsitek pendidikan, Natsir selain menulis karya ilmiah yang berisikan gagasan dan pemikiran tentang pembaruan dan kemajuan pendidikan Islam, ia juga sebagai praktisi dan pelaku pendidikan yang terbukti cukup berhasil, ia tidak puas dengan sistem pendidikan Belanda yang sekuler dan dikotomis, dan juga pada pendidikan Islam tradisional, khususya pesantren dan madrasah yang hanya mementingkan ilmu-ilmu agama saja, sehingga lulusannya tidak dapat merebut peluang kerja pada sektor-sektor ekonomi, hukum, politik dan sebagainya. Keempat, Nastsir melihat bahwa masalah pokok untuk mengatasi keterbelakangan dalam pendidikan terletak pada tiga hal: (i) dengan merombak sistem yang dikotomis kepada sistem yang integrated antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. (ii) dengan merombak kurikulum dari kurikulum yang dikotomis menjadi kurikulum yang integrated (iii) dengan menggunakan metode-metode yang aplicable dan sesuai dengan syariat-syariat Islam. Kelima, gagasan dan pemikiran Natsir, baik dalam bidang kenegaraan maupun bidang pendidikan, tampak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Yang dimaksud faktor internal adalah kecerdasan, karakter dan kepribadian Natsir yang demikian kuat, tabah dan rela berkorban untuk memperjuangkan kebenaran yang diyakininya sekalipun harus dibayar dengan penderitaan. Dan yang dimaksud dengan faktor ekternal adalah penjajahan belanda yang telah menyengsarakan rakyat baik lahir maupun bathin, dan juga kondisi umat Islam sendiri yang bersikap pasrah, memusuhi ilmu pengetahuan, tidak menguasai manajeman dan cita-cita yang tinggi.
D. PENUTUP
Inilah gagasan serta pemikiran Muhammad Natsir dalam dunia pendidikan, yang membuktikan bahwa beliau seorang tokoh Islam yang memiliki pandangan luas tentang kemaslahatan umat Islam. Semoga kita sebagai generasi yang datang sesudahnya mampu mengembangkan pemikiran-pemikiran beliau untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin.
Wallahu A’lam bi ash-Shawab!!!